5 Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustus | Contoh Karya Sastra

5 Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustus


Contoh Puisi Memperingati Kemerdekaan 17 Agustus - Tak terasa sebentar lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan negara kita yaitu pada tanggal 17 Agustus. Pastinya sobat-sobat sekalian juga gembira untuk menyambut perayaan hari kemerdekaan negara kita tercinta ini bukan?. Dengan memperingati dan menghayati makna yang terkandung dalam peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus yang diadakan rutin tiap tahun, berarti kita secara tidak langsung ikut mengingat kembali proses dimana bangsa kita ini dulu pernah dijajah lalu dengan usaha para pejuang akhirnya kemerdekaan itu bisa diraih.

Banyak sekali pengorbanan yang dialami dan dilalui oleh para pendahulu kita untuk menjadikan negeri ini merdeka. Maka sebagai generasi penerus bangsa Indonesia tercinta ini kita selayaknya selalu mawas diri dalam bertingkah laku serta turut berpartisipasi untuk membangun secara positif negeri ini dibidang yang nantinya akan kita dalami. Karena dengan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif maka nantinya negeri Indonesia yang kita cintai ini akan senantiasa berjaya.

So, buat sobat sekalian, berikut ini kami sajikan 5 contoh puisi pilihan tentang kemerdekaan yang bisa sobat baca dan cerna makna yang terkandung dalam ke 5 puisi tentang kemerdekaan 17 Agustus ini.




KEMERDEKAAN DI TANAH AIR
Arbak Othman
Selagi kita tidak dapat keluar dari gua hitam
Selagi itulah kita pengkhianat kemerdekaan
Tak siapa dan bukan siapa
Sesiapa sahaja yang melakukan.
Kemerdekaan di tanah air ini
Bukan pesta jembalang menari
Dan mengilai di pelabuhan retak, tapi
Landasan yang semestinya maruah dan keperibadian suci
Dan setiap pesongan jati diri yang unggul ini
Akan dicaci sehabis benci.


(Petikan sajak Kemerdekaan Di Tanah Air Ini: Ratib 1000 Syair Gapena, 2005)


AGUSTUSAN; SUDAHKAH KITA BENAR-BENAR MERDEKA?

Ochi Rosdian 
17 Agustus 1945
Tercatat dalam lembar sejarah
Tangan-tangan gagah menekan-mundur penjajah
Berakhirlah pertumpahan darah

Golok dan keris kembali bersarung
Bambu runcing lelah terjaga, terbenam dalam dekapan bumi
Khidmat berhymne pada janji kemerdekaan;
Proklamasi.

Agustusan, selanjutnya kami menyebut begitu
Dusun dan kota bersolek nuansa merah putih
Di tanah lapang, pasukan berbaris tunaikan pengabdian
Bendera berkibar
Nasionalisme berkobar

Agustusan, nyatanya sekedar seremonial
Masa keemasan lama memudar
Berkurang nilai sudah tentu turun harga
Di senayan, Tuan dan Nyonya berdasi sikut kanan-kiri berebut kursi
Di jalanan, tunas-tunas bangsa mencekik leher Vodka, larut dalam euforia gengsi
Di kala malam, pegadaian harga diri mengobral penawaran pada Si hidung belang
Katanya sih demi sepotong roti atau entah sebungkus nasi

Pertiwi ... maaf bila kami terlupa
Sudah berapa lama Indonesia merdeka?
Kita tidak dijajah, nyatanya terjajah
Lawan! Bisikmu di keheningan
Bukan golok dan keris yang harus kau hunus
Penjajah menyusup lewat pemikiran
Bebaskan jiwa dari belenggu pembodohan
Itulah musuh nyata bagimu, Negeri.
Salam merah putih. Merdeka!


Bandung, 14 Agustus 2014


RINDU KEMERDEKAAN SEJATI

Meliana Levina Prasetyo

Berabad-abad silam tanah persada berada dalam cengkeraman para raja tamak dari tanah barat
Mereka merebut warisan kekayaan alam Nusantara sejak dulu kala
Mereka ingin memiliki tanah persada seutuhnya serta menjadi raja di tanah asing
Mereka telah menyisakan berbagai goresan luka dalam kalbu setiap anak negeri

Hingga muncul para pendekar bangsa berjuang gigih sehidup semati demi kebebasan ibu pertiwi
Mereka gigih di tengah-tengah medan laga yang ganas tak berperasaan
Sampai tinggal nama pun mereka tidak berhenti berseru
Perjuangan mereka bagai rantai kehidupan tanpa batasan

Setelah ibu pertiwi bebas dari cengkeraman para raja loba
Raja negeri Kincir Angin masih ingin terus mencengkeram tanah persada
Namun akhirnya putera-puteri pertiwi menang bestari
Mereka dengan bangga membangun bahtera di tanah air sendiri

Namun apakah insan pertiwi telah merasakan kemerdekaan sejati?
Meskipun lahir merdeka namun batin masih terancam
Berbagai bisul perpecahan bangsa dan virus mematikan dari negeri seberang semakin menusuk kalbu
Ayo bangkitlah anak negeri bawalah bangsa ini menuju padang bakti mulia gemilang



MERAH PUTIHKU
Manshuri Yusuf 
Masih terhitung dalam rekam jiwa
Atas semangat empat lima
Menyejarah nusantara
Mengukirkan tinta emas pada negeri cincin api

Kutatap lambaian lunglaimu
Bersimbah darah
Perlahan, para begundal khianat
Mencabut kilatan pedang, melumat

Apakah kau telah lelah berkibar?
Setelah nikmati euforia orde lama
Terlena dalam orde baru,
hingga tertatih dalam reformasi

Ahh, merah putihku
Berbaringlah barang sejenak mata
Lepaskanlah jubah lelahmu
Nusantara telah menanti lambaian teduhmu

Kandangan, 8 Agustus 2014


MERDEKA TAK SEKEDAR NAMA
Nining Amalia
Namun, apa kabar merdekaku?
Apakah kedaulatan masih dalam genggamanmu?
Harapku tak hanya tinggal nama
Inginku tak hanya sekedar perayaan

Perang fisik berlalu menyisahkan kemerdekaan kita
Menghadapinya bukan main semangat juangnya
Tak mungkin diraih jika mereka…
Tak mencintai bangsa tempat pijakan

Kini perang pemikiran tengah menjajah
Masihkan merdeka bisa kita raih?
Ah, tak mungkin rasanya jika kalian…
Para penerus bangsa terbawa arus begitu saja

Beranjaklah pergi dari pemikiran pragmatis
Berlalulah dari gaya hidup hedonis
Berontaklah dengan sikap individualis
Singkirkan kerikil penghalang kemerdekaan utuh bangsa

Tenang saja negara pijakanku, Indonesia
Cinta akan memerdekakanmu kembali, utuh
Tak ada lagi merdeka sekedar nama
Kami siap memerdekakanmu dari segala bentuk penjajahan


Makassar, 06 Agustus 2014


Subscribe to receive free email updates: