Iklan Atas

Blogger Jateng

Pecel | Cerpen Kartika Catur Pelita



Hampir saban hari suaminya makan pecel. Tiada hari tanpa makan pecel. Suaminya sangat suka makan pecel. Konon, karena sejak kecil ia tinggal di desa bersama ibunya yang berjualan pecel demi menghidupi kedelapan anaknya.

Suaminya anak ragil. Berkat ketekunan, kerja keras, ia meniti karier militer berpangkat kolonel. Ia bangga atas keberadaan suaminya yang berpangkat tinggi, tapi tetap rendah hati. Tak suka membeda-bedakan teman. Tak suka pilih-pilih makanan. Sejak dulu hingga hari ini masih suka pecel.

Demi rasa cinta, yang konon dari mata turun ke makanan, ia suka masak pecel. Namun entah, pecel bikinannya sepertinya tak enak. Walau suaminya tidak pernah komplain, ia tak percaya diri bahwa pecel racikannya enak.

Demi suaminya, ia berkelana mencari pecel paling enak. Ia selalu mencari informasi di mana ada warung yang menjual pecel enak. Ia kemudian menyambangi; selain membeli, ia belajar mengenai resep mengapa pecel itu berasa enak.

“Sayuran harus segar. Sayuran direbus sebentar, tambahkan sepercik garam, supaya sayuran tetap hijau dan rasanya kres-kres-kres.”

“Begitu ya.”

“Rahasia kecil tapi banyak orang yang meremehkan.”

“Bumbu kacangnya gimana?”

“Bumbu kacangnya harus segar juga.”

“Maksudnya?”

“Goreng kacang tanah dan simpan dalam wadah kedap udara supaya tetap renyah. Kemudian saat ada pembeli baru deh kita ulekkan bumbunya.”

“Apa tak capek?”

“Justru rahasia rasa enaknya pecel di situ. Kacang hasil ulekan beda dari kacang blenderan. Teksturnya tak lebih lembut dan rasanya lebih gurih.”

Ia mempraktikkan resep penjual pecel pinggir jalan, dekat gang, dengan para pembeli bermobil dan rela antre. Ia meniru resep pemberian perempuan udik yang semringah, bersemangat, dan baik hati itu. Sayang, hanya beberapa hari ia bertahan mengulek. Hari-hari selanjutnya ulekan ia serahterimakan ke pembantu. Teryata benar, meski takaran sama, ia yang meracik, menakar, hasil ulekan berbeda, bermuara pada rasa: jelas beda. Pembantunya mengulek secara tergesa dan pecelnya tak berasa seperti yang didamba.

Demi rasa cinta pada suaminya yang suka pecel, ia membolak-balik buku resep masakan, menonton video orang demo membuat pecel. Hingga suatu ketika teman masa kecil menelepon.

“Aku tahu orang jualan pecel paling enak, Jeng Ajeng.”

“Di mana?”

“Kantin sekolah kita. Besok kutunggu kau di sana. Oke?”

“Baiklah. Aku akan datang sendiri.”

Bertemu teman masa kecil, dia mencicipi kuliner pecel desa. Ia terperangah. Ternyata rasa pecel itu luar biasa. Gurih, paduan kacang dan bumbunya pas. Pedasnya segar di lidah. Dan sayurannya matang, digigit masih berasa sayuran segar. Kontan ia mendatangi dapur pemilik restoran pecel yang konon sering didatangi pejabat dan para sosialita.

Bahkan beberapa pesohor yang kerap beraksi teve atau bioskop mampir saat berkunjung ke kota kecil diapit dua gunung dan pantai indah itu.

“Bolehkah kami tahu apa resep pecel ini?”

“Tentu boleh. Namun ini rahasia kami turun-menurun. Kalau kami menceritakan, bisa-bisa leluhur kami marah dan jualan kami sepi.”

“Apakah ada cara lain supaya saya tahu resepnya dan leluhurmu tak marah?”

Teman masa kecilnya negosiasi. Bicara empat mata. Akhirnya pemilik mau berbagi resep, dengan catatan ia harus memberikan segepok uang sebagai jaminan. Ia tak keberatan.

“Resepnya berada di bumbu kacang pecel. Kami mengolah dari kacang yang hanya tumbuh di daerah kami. Kacang kami rasanya sangat gurih, sangat beda dari kacang yang tumbuh di daerah lain.”

“Hanya itu?”

“Tentu saja tidak. Pengolahan memegang peran penting. Percuma jika kacang berkualitas tinggi tapi mengolahnya salah kaprah.”

“Bisa menjelaskan lebih mudah supaya kami paham.”

“Kacang bermutu tinggi kami cuci dengan air mengalir. Kemudian kami tiriskan, lalu kami siram sebentar dengan air mendidih. Diamkan satu jam. Kemudian kacang kami kupas. Kami bumbui dengan bumbu rahasia. Lalu kacang kami sangrai. Kacang itulah yang kami jadikan bahan bumbu pecel.”

Ia mengangguk, pulang ke kotanya, ke rumah dan mempraktikkan resep dari warung tersohor di kota kecil diapit gunung dan pantai itu. Entah karena ia lupa atau ada aturan yang terbolak- balik dia kerjakan, pecel yang dia hasilkan biasa-biasa saja. Ia mencicipi dan rasanya tak beda dari pecel bikinan dia selama ini. Namun seperti biasa, si suami menikmati pecel itu. Lahap, tanpa keluh-kesah.

Ia tetap terobsesi mencari resep pecel paling enak. Suatu hari ia melihat menu pecel di media online. Terlihat menggiurkan. Ia memesan. Selang satu jam muncul seorang gadis belia mengantarkan pesanan: pecel terenak di dunia!

Ia bersorak saat mencicipi pecel yang teramat enak itu. Ia yakin suaminya pasti sangat menyukai.

“Siapa yang membuat pecel ini?”

“Saya. Saya yang membikin, Ibu.”

“Semuda ini kau bisa membuat pecel seenak ini? Siapa yang mengajari kamu? Ibu, nenek, atau….”

“Saya belajar sendiri. Saya memadumadankan aneka resep pecel. Saya menakar bumbu dengan rasa.”

“Rasa.”

“Ya, rasa cinta. Saya bikin pecel dengan riang gembira dan cinta. Saya berharap orang yang memakan pecel saya merasakan apa yang saya pikirkan. Ternyata banyak yang menyukai pecel saya.”

Ia termangu. Untung, si gadis belia bisa membuat pecel seenak itu. Seandainya gadis belia itu dia, alangkah beruntung.

“Berapa keuntungan kaudapat dari jualan pecel?”

“Cukuplah, Ibu. Saya bisa membiayai kuliah, membantu orang tua, dan punya sedikit tabungan.”

“Hebat!”

Seperti biasa ia meminta resep pembuatan pecel paling enak. Ia, si gadis belia, tanpa sungkan-sungkan berbagi rahasia bikin pecel enak.

Ia mencatat dan kali ini berharap pecelnya benar-benar enak.

Ia pulang tanpa mengetuk pintu. Ia memanggil suaminya seperti biasa saat pulang. Namun tak ada sahutan. Mungkin suaminya tertidur. Ia bergegas ke kamarnya. Lelah dan saat gerah seperti ini paling asyik mandi, berendam air hangat-hangat kuku, kemudian setelah itu ke dapur untuk resep pecel terenak.

Ia membuka pintu dan mengucek mata. Apakah ini mimpi? Ia melihat suaminya sedang mengulek bumbu pecel di atas ranjang. Sementara dua perempuan tengah memetik sayuran dan mengulumkannya pada sang suami.

Suaminya terengah-engah, kepedasan seperti saat makan pecel. Ia berpegangan ke dinding, sebelum merasa air matanya mengucur, dan menjelma seperti bumbu pecel.


Kota Ukir, 2 Februari 2017-13 Maret 2018

Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1970. Cerpen, esai, dan puisinya dimuat berbagai media cetak dan online. Buku fiksinya Perjaka, Balada Orang-orang Tercinta, dan Bintang Panjer Sore. Bermukim di Jepara, bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).

Posting Komentar untuk "Pecel | Cerpen Kartika Catur Pelita"