Putu Cangkir | Cerpen Chaery Ma - Contoh Karya Sastra Puisi, Cerpen, Drama dan Lainnya

Putu Cangkir | Cerpen Chaery Ma

Judul : Putu Cangkir | Cerpen Chaery Ma
Rating : 100% based on 9759 ratings. 9676 user reviews.
Dihimpun Oleh Jasmin Olivia





PUKUL 4 sore dan penganan putu cangkir di depan rumah adalah janji yang selalu tepat waktu. Seperti suratan takdir yang tak pernah melenceng, pukul 4 adalah alamat penjual putu cangkir itu membuka warungnya. Sederhana saja, ketika warung putu cangkir di depan rumah sudah terbuka, berarti hari sudah pukul 4 sore. Dan lagi, aku selalu menjadi orang yang kurang kerjaan memastikan kapan penjual putu cangkir itu terlambat atau mungkin lebih cepat beberapa menit membuka warungnya dari angka 4 pada jarum jam.

Kenyataannya, memang tak pernah melenceng sekali pun. Atau mungkin saja pernah saat aku kebetulan memang benar-benar tak memperhatikan atau sedang tak ada di rumah. Juga alasan apa yang membuatku seolah-olah seperti agen intelijen terhadap kesetiaan mengamati sesuatu yang tak benar-benar bisa kupaparkan selain kesukaanku pada wangi khasnya—aroma gula merah yang baru diangkat dari kukusan berkolaborasi dengan isian parutan kelapa setengah matang di dalamnya—yang memenuhi rongga hidung.

Tentu saja, siapa pun akan menyesal jika tak singgah membeli sebiji atau dua biji. Bahkan, beberapa biji pun tidak akan sampai membuat jebol saku. Kebanyakan pelanggannya memang orang-orang yang baru pulang dari kerja. Pun sudah terbayangkan, surga apa lagi yang menandingi kenikmatan menyesap secangkir teh hangat dengan penganan putu cangkir dalam kondisi tubuh yang butuh istirahat sambil menyaksikan peralihan warna langit. Dan di sinilah aku—di balik jendela rumah—yang selalu setia pada waktu-waktu itu melihat kesibukan sepasang suami istri yang tak lagi muda melayani pelanggannya dengan senyum yang tak pernah pudar. Juga suara-suara besar yang mengiringi. Sepasang suami istri yang bersuara besar, demikian belakangan hari aku memberi mereka nama. Mereka mempunyai nama, nama yang sama dengan kebanyakan nama Bugis lain, tapi aku sudah telanjur menyukai julukan itu.

”Berapa?”

”Tiga?”

”Tiga ribu semuanya … terima kasih nah.”

Suara yang diperantarai dua jalur jalan, tapi masih sampai ke telinga. Suara yang terdengar selalu monolog saking besarnya. Dan itu akan membuatku tertawa sendiri, lebih ketika membayangkan bagaimana terganggunya orang-orang di samping warungnya. Sayangnya, yang tepat bersebelahan dengan warung itu adalah rumah Melati, sahabatku.

Melati pernah bercerita bahwa sepasang suami istri itu sebelumnya berasal dari daerah pesisir yang sudah menjadi rahasia umum orang-orang pesisir adalah orang-orang yang bersuara besar. Telah sekian tahun mereka mendiami warung itu. Seharusnya menjadi alasan mereka menurunkan volume suara beberapa desibel. Tapi sayangnya mereka masih setia, dan mungkin saja sudah tak bisa lagi berubah, entahlah …

”Apakah kamu tidak terganggu?” Pernah kutanyakan itu pada suatu hari yang telah lewat. Kepada Melati tentu saja.

”Justru suara-suara itu yang kurindukan ketika aku pergi jauh dari rumah.” Dia membalas dengan lesung pipi yang seperti tak menyisakan tempat lagi untuk memicingkan mata. Benar saja, kepergiannya ke Beijing karena diboyong suami yang sedang melanjutkan pendidikan di sana memberi pembuktian yang tak bisa lagi kupertanyakan. Setiap kali Melati menghubungiku, selalu saja putu cangkir itu berada pada urutan keempat pertanyaannya.

Nomor urut satu, menanyakan kabar orang tuanya yang mungkin saja sedetik lalu baru selesai ditelepon. Dua, tentang keluarga kecilku—janjinya pada Dea untuk membawakan boneka panda pada musim mudik nanti. Ketiga, Rifky—lelaki di samping rumah yang pernah menjadi cinta pertama Melati pada masa lalu. Dan yang keempat, tentu saja tentang putu cangkir itu. Apakah masih dijual? Dan sepasang suami istri itu apakah sehat-sehat saja?

Pukul 4 sore dan penganan putu cangkir di depan rumah adalah alamat bahwa sebentar lagi aku harus segera ke tempat les. Menjemput anak-anakku.

***

Walaupun tak pernah benar-benar melihat bagaimana kesibukan sepasang suami istri bersuara besar itu dari balik lemari kaca depan warungnya, aku bisa membayangkan tangan-tangan yang tak lagi kekar itu bekerja dengan telaten. Mengayak olahan beras ketan bercampur gula merah lantas mencetaknya di dalam cangkir yang menjadi alasan kenapa kemudian dinamakan putu cangkir. Juga kesabaran mereka mempertahankan aroma khas yang konon tergantung pada durasi pengukusan dan suhu api sehingga setiap pelanggan selalu bisa membeli dalam kondisi yang sedang hangat-hangatnya.

Membeli putu cangkir adalah pelajaran tentang kesetiaan. Berdiri lama menunggu sampai penganan itu benar-benar matang dari kukusannya adalah perihal siapa yang setia dan paling setia. Kenyataannya, beberapa orang memilih mundur melihat antrean panjang yang ketika terpotong akan membentuk ekor yang lebih panjang lagi. Tak ada bukti sepasang suami istri yang bersuara besar itu pernah mendapatkan teori marketing yang dianut Kotler dan Armstrong. Bahkan, lulus sekolah dasar (SD) pun tak bisa kujamin. Akan tetapi, terbukti sudah, pemasaran sebagaimana dianut teori tersebut—tidak sekadar menyampaikan produk dari tangan penjual ke pembeli, tapi memperhatikan apakah kebutuhan dan keinginan pembeli terpenuhi, apakah pembeli puas terhadap produk tersebut, dan apakah pembeli akan melakukan pembelian ulang serta menjadi loyal terhadap produk itu—telah menerapkan pengaplikasian dengan sebenar-benarnya. Teori yang pernah kudapatkan di bangku kuliah sayangnya harus terpendam begitu saja. Pernikahan yang telah kujalani tujuh tahun membuatku mengambil keputusan yang tidak akan pernah kusesali. Yakni menjadi ibu sepanjang waktunya anak-anakku di rumah.

Maka di sinilah aku—di balik jendela rumah—menyelesaikan pemandangan rutin itu sejak memutuskan untuk tinggal di rumah. Jeda sejenak ketika harus menjemput anak-anak. Dan kembali berkumpul di tempat yang sama begitu semua kewajiban telah tertunaikan, hingga magrib. Selalunya begitu. Entah…. Anak-anak mungkin tak akan pernah tahu bahwa putu cangkir di depan rumah adalah perhatian ibunya selama ini. Demikian pula Ammar, suamiku.

Tentang Ammar, dia adalah lelaki yang baik. Kuakui itu sejak dahulu kala. Tak pernah ada konflik yang benar-benar rumit sepanjang pernikahan kami, selain satu hal yang nantinya akan kupaparkan belakangan, jika memungkinkan. Perjodohan yang konon disebut-sebut lebih melanggengkan sebuah pernikahan telah kubuktikan bersamanya. Juga, dia adalah lelaki penurut begitu aku mengusulkan untuk tetap tinggal di rumah panggung saoraja—arsitektur rumah adat—peninggalan orang tuaku. Rumah panggung dengan 40 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu bayam—kayu terbaik yang tahan lama dan kuat terhadap serangan rayap. Pun dia memilih mengalah untuk tak membeli rumah di tempat lain ketika kembali kujelaskan bahwa rumah ini akan kami tinggali selamanya.

Termasuk alasanku untuk tetap mengenang rumah ini sebagai rumah kenangan. Dan mempertahankan kekhasan rumah Bugis yang sudah mulai hilang ditelan modernisasi. Kami tak pernah benar-benar berselisih paham kecuali saat dia memintaku melepaskan karir sebagai pegawai salah satu perusahaan swasta dulu. Pun pada akhirnya aku harus tahu diri juga ketika Dea lahir dalam usia kandungan tujuh bulan, dan terpanggil untuk full time memberi asupan gizi demi pertumbuhannya. Lagi, keputusan yang tak akan pernah kusesali.

Pukul 4 sore dan penganan putu cangkir di depan rumah juga alamat untuk segera siap-siap menyambut pelengkap separo agamaku. Ammar.

***

Sore itu, sore yang ke 7.207 sejak suami istri itu mendirikan warung putu cangkir di depan rumah. Aku begitu detail mengingat, tentu saja. Warung yang juga merangkap rumah, dengan bentuk yang tak pernah berubah selain atapnya yang pernah diganti dari daun rumbia menjadi seng beberapa waktu lalu. Hitungan harinya begitu akurat tercatat di kepala. Sebaliknya, tak ada ulang tahun atau hari kepergian orang tuaku yang benar-benar tepat. Aku hanya mengingat hari kepergian emma adalah kemarin dan etta besoknya. Tapi sepiring putu cangkir yang diantar cucu sepasang suami istri bersuara besar itu memorak-porandakan perasaanku seketika itu juga. Kiriman dari kakek-neneknya. Begitu mulut berbibir kecil itu menjelaskan. Gratis, tambahnya lagi.

Aku berdiri mematung, bergantian mengamati anak perempuan yang seusia Dea itu, dan putu cangkir yang dari aromanya sudah jelas baru beberapa menit terangkat dari kukusan.

”Puang…” Anak itu mengentakkanku dari lamunan. Segera kupindahkan putu cangkir itu ke piring yang kosong dan mengisinya kembali dengan camilan dari kulkas. Anak perempuan itu tersenyum lebar dan berlalu. Mungkin saja, camilan beraneka warna itu jauh lebih mengalihkan perhatiannya dibanding wajahku yang seketika itu terasa pias. Pintu segera kututup, membiarkan putu cangkir itu menguap dingin begitu saja. Tujuanku cuma satu, kembali mengamati aktivitas sepasang suami istri itu dari balik jendela rumah. Dan kemudian menghubungi Melati.

”Mereka mengirimiku putu cangkir.” Bahkan nada suaraku tidak mampu lagi menyembunyikan getarannya begitu tersambung dengan Melati.

”Berarti itu sudah kali kedua sejak kepindahannya kira-kira 20 tahun yang lalu.” Suara Melati pun terdengar bergetar. Hening. Dulu, di awal berdirinya, sepasang suami istri itu memang pernah mengirimkan putu cangkir untukku.

”Aku harus bagaimana, Mel?”

”Kamu harus bagaimana?” Tak seharusnya Melati balik bertanya seperti itu.

”Aku tak tahu.”

”Apakah kamu sudah memakannya? Mungkin mereka berharap kau mencoba putu cangkirnya.”

”Tapi kamu tahu sendiri, sejak warung itu berdiri, aku tak pernah sekali pun mencicipi putu cangkir itu.”

”Cicipilah … putu cangkir mereka adalah putu cangkir terbaik yang pernah kutemukan. Kau harus memakannya, sekali ini saja.”

Ada genangan panas yang tertahan di sana, di pelupuk mataku. Segera kutepis dengan bergegas keluar rumah. Pukul 4 sore dan penganan putu cangkir adalah alamat untuk menjemput anak-anak di tempat les dan Ammar sebentar lagi akan pulang dari kantor. Maka pilihanku, membiarkan putu cangkir itu dingin dan tak tersentuh sama sekali.

Hingga malam, anak-anak maupun Ammar bergantian menanyakan dari mana asal putu cangkir di atas meja.

”Bukannya Ibu tak menyukai putu cangkir?”

”Memangnya Ibu beli putu cangkir?”

”Ibu membeli putu cangkir itu dari mana?”

Aku menggeleng pelan.

”Kiriman putu cangkir dari depan rumah.”

Dea dan adiknya berpandangan, Ammar juga. Aku tahu. Mereka pun penasaran seperti apa rasa putu cangkir yang konon enak itu. Tapi mereka pergi satu-satu, menghormatiku, seorang perempuan yang tak pernah sekali pun menikmati putu cangkir warung depan rumahnya.

Besoknya, pukul 4 sore dan penganan putu cangkir senyap. Tak ada pelanggan. Tak ada aroma khas itu. Aku dengan setengah berlari menuruni tangga. Menyeberangi jalan. Dan untuk kali pertama menginjakkan kaki di tempat itu.

”Daeng Ngenre dan Daeng Tengge ke mana?” tanyaku kepada seorang lelaki yang berdiri di sana.

”Mereka sudah pindah. Ke Barru. Apakah kamu tidak mendapatkan titipan kue putu cangkir darinya kemarin? Itu adalah salam perpisahan yang juga dibagikan kepada para pelanggannya.”

Lama aku tepekur. Aku kemudian pulang dan menghubungi Melati.

”Mel … mereka pindah.”

”Apakah kamu tidak punya firasat sebelumnya?”

”Sama sekali tidak ada …”

”Mungkin karena mereka sudah lelah menunggumu.”

Kini air mataku mengalir dengan sebenar-benarnya. Ada sesak yang menyeruak. Segera kuambil putu cangkir yang sengaja kusimpan di kulkas. Memakannya dengan air mata. Aku tahu, kenapa rasanya masih tetap enak meskipun sudah dingin dan tak lagi beraroma khas, karena mereka membuatnya dengan sepenuh cinta. Apakah mereka tidak tahu, salah satu alasanku mempertahankan rumah ini juga karena ingin selalu menyaksikan aktivitas mereka dan menatap dari kejauhan. Kini mereka telah pergi, membawa perasaanku.

***

Perempuan di rumah panggung itu selalu jelas terlihat dari balik kaca jendela rumahnya. Apakah dia tidak menyadari bahwa aku bisa melihatnya dari posisiku berada? Meskipun itu hanya bayang-bayang. Aku tahu dia selalu berada di sana. Mengamatiku, mengamati kami. Kadang ketika hatiku sudah tak mampu diajak kompromi, ingin sekali rasanya berlari ke sana, menemuinya, dan menjelaskan berbagai hal. Tapi suamiku selalu mencegah. Pun alasanku untuk memilih pindah ke depan rumahnya 20 tahun yang lalu, karena ingin selalu melihatnya.

Dia anakku. Satu-satunya anak perempuanku. Anak yang diadopsi bangsawan di daerah ini saat usianya masih 10 tahun. Telah lama kami saling mengetahui, seperti janji yang tidak pernah terikrar, kami memilih saling menutupi. Dia masih butuh waktu untuk menerima segalanya, mungkin. Dan aku yang lebih baik memilih pergi, membiarkannya hidup tanpa bayang-bayang orang tua kandungnya. Pada akhirnya dia akan mencariku, tentu saja, karena rindu. Entah keyakinan dari mana yang membuatku seteguh itu. Juga, satu hal yang kurahasiakan dari siapa pun, dia anakku bukan bersama suamiku yang sekarang, melainkan dari lelaki lain, ayah angkatnya sendiri. (*)

Catatan

Emma: Ibu

Etta: Ayah

Puang: Panggilan untuk orang yang dihormati (bangsawan) dalam masyarakat Bugis

Belum ada Komentar untuk "Putu Cangkir | Cerpen Chaery Ma"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel