Ampo | Cerpen Andri Saptono | Contoh Karya Sastra

Ampo | Cerpen Andri Saptono



Guru Atma menatap hujan yang belum berhenti turun di beranda. Hidungnya kembang kempis demi menghirup ampo, atau aroma tanah selepas hujan itu. Ia tersenyum menatap hujan yang pertama turun di kota ini setelah sekian lama hari-hari kota ini tengadah menatap matahari yang memanggang. Kopi di sampingnya mendingin ia biarkan. Radio yang kemrosok karena kehilangan sinyal, juga tidak ia pedulikan. Hanya rintik hujan yang ia dengarkan. Hanya bau ampo yang menguasai keheningan benaknya.

Ah, ampo ini adalah aroma masa kecilnya dan juga gairah hidupnya sebagai guru honorer di kota pinggiran yang penuh suka duka ini.

Kata orang guru Atma itu aneh. Mengabdi sebagai guru di kota pinggiran ini. Ia mengajar di sebuah SMP yang berbasis agama, yang hampir putus asa mendidik kebaikan kepada siswanya. Pun masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan atau agama. Mereka hanya bekerja menghalalkan segala cara. Kejahatan adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa dihentikan, apalagi sekadar pendidikan agama di madrasah.

Namun guru Atma adalah seorang yang impulsif. Kebetulan saja ia ditawari seorang temannya yang menjadi kepala sekolah di sini.

Kau masih mau menjadi guru? Aku mau menawari kamu mengajar di sekolahku. Kebetulan sekolahku butuh guru bahasa. Tentu ijazahmu lebih berguna di sini. Soal tempat tinggal, aku ada sebuah rumah kosong di sini. Dan kurasa ini lebih baik daripada menjadi pelukis potret di kampung sana?

Begitulah hanya karena tawaran dari temannya itu, guru Atma mengangkat koper pakaiannya. Juga lantas alat-alat lukis itu ia susulkan belakangan. Aktivitasnya yang kedua ini tak ingin ia tinggalkan. Entah ia ingin menggambar apa di kota baru ini. Kota yang nyaris separuhnya telah gosong oleh kemarau panjang. Sedang separuhnya lagi terbakar karena kekacauan dan kerusuhan. Mungkin guru Atma benar-benar berminat melukis kota ini yang masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan, agama, bahkan Tuhan.

“Aku gaji kau disini sesuai dengan kemampuanku. Maklum, sekolah tak banyak muridnya. Yang penting kau bisa makan dan hidup di sini. Aku tahu kau pasti mau. Aku kenal kau. Aku yakin kau masih idealis seperti zaman kuliah dulu. Bukan seperti mereka yang gemar menjual ijazah S1 untuk mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri.”

Kawannya itu memang tak perlu membujuk guru Atma. Sekarang guru Atma sudah 1 tahun mengajar di sekolah itu. Sekolah yang mengajarkan agama dan pelajaran umum menjadi satu. Kawannya yang idealis itu masih percaya bahwa pelajaran agama bisa mengubah wajah bopeng kota ini menjadi lebih baik. Ia malah takut jika dibuat pelajaran umum saja.

Pun ia juga melepaskan diri dari pemerintah yang setengah-setengah mau membantunya. Memberi bantuan tetapi juga memotong untuk biaya administrasi, biaya ketebelece, dll. Mereka juga suka minta begini dan begitu kalau sudah merasa pernah memberi bantuan sesuatu. Mata pelajaran ini dihilangkan, yang itu ditambah, diganti kurikulum baru, pelajaran agama juga tak perlu banyak-banyak, sebagai selingan saja. Maka, si kawan guru Atma itu pilih berlepas diri dari pemerintah. Perusahaan tekstil dan kebun sawitnya di Sumatra itu ia jual untuk membuat sekolahan di Kota Solo ini.

Sekarang, lima tahun berdiri sekolah ini masih tak banyak berubah. Jumlah muridnya hanya satu kelas semua. Kelas I satu kelas, kelas II satu kelas, dan kelas III satu kelas. Lulusannya bisa dihitung dengan jari setiap akhir tahun. Tapi sekolah itu tetap bertahan. Pemerintah juga enggan menutupnya. Mereka khawatir jika tidak ada penduduk di kota ini yang sekolah, maka akan menjadi sorotan dunia. Mereka lebih takut di-bully oleh netizen di media sosial.

Guru Atma mengajar bahasa di kelas I sampai III. Ia pun senang-senang saja. Tidak peduli dengan gajinya. Atau jumlah jam mengajar. Ketika longgar, ia selalu mudah tergerak untuk berada di kelas dan mengajarkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada anak-anak itu. Walaupun anak-anak kadang kala tak peduli, tidak memperhatikan, memainkan gawai di kelas, atau malah ada yang pacaran di WC guru. Guru Atma sebenarnya mengetahui hal itu. Tapi ia tetap tersenyum. Mengajar dengan cara yang tak biasa. Kadang anak-anak malah merasa heran dengan kebiasaan guru baru itu. Harusnya guru itu tidak bertahan sampai setahun ini. Harusnya ia sudah hengkang dari dulu-dulu seperti guru lainnya. Ataukah ia memang orang-orang gila seperti sang kepala sekolah yang suka berpenampilan mirip koboi itu?

*****

Jam sebelas berdenting di belakang punggung guru Atma. Gerimis masih nggrejeh untuk pertama kalinya hujan selama satu tahun kemarau ini.

“Ini hujan pertanda baik atau buruk?” tanya suara yang tiba-tiba naik dari halaman. Pak kepala sekolah ternyata yang datang. Sejak Magrib sampai sekarang masih gerimis tak mau henti-henti.

Guru Atma tersenyum menatap temannya datang, lalu kembali pada gerimis di halaman, sejenak beralih pada seekor bangkong yang keluar dari balik pot yang terbalik.

“Tanya pada bangkong itu. Dia pasti lebih tahu?”

“Andai saja ia bisa bicara, kawanku.”

“Tentu ia bisa bicara.”

“Ya, tapi aku kan tak tahu bagaimana bahasa mereka?”

“Oh, kau tak perlu menjawabnya. Cukup dengarkan saja.”

“Benarkah. Aku tak perlu mengajaknya bicara, cukup mendengarkan saja mereka berkata.”

“Ya, kita tunggu saja. Semoga saja ia mau bicara soal hujan sesore ini.”

Tapi, si katak besar tidak mau bicara. Si bangkong hanya berdiam di halaman, membiarkan tubuhnya yang bintil-bintil seperti kutil itu terguyur gerimis. Sesekali lidahnya menjulur kalau ada serangga kecil atau nyamuk yang melintas. Makhluk-makhluk itu akan bermalam selamanya di perut sang bangkong itu.

“Sial! Ia sepertinya tak mau bicara!”

“Ya, bahkan bangkong itu pun tak mau bicara pada kita.”

“Ah, aku jadi takut dengan amsal hujan pertama kali ini kawan.”

“Tapi aku masih punya sedikit harapan baik. Aku masih punya firasat itu. Sang Pemilik Hujan tidak serta merta murka. Ia masih menanti kita menjadi orang baik yang disukai-Nya.”

“Tapi dari segi apa kau bisa bicara tentang harapan baik?”

“Ampo! Ya, kau bisa cium ampo tanah halaman ini?”

Si kepala sekolah mengangguk. Sementara guru Atma membuatkan kopi untuk kawannya. Seperti biasa keduanya akan berbincang panjang tentang hujan di beranda ini.

*****

“Ampo ini terasa gurih dan nikmat seperti masa kecil kita,” kata pak kepala sekolah.

“Ya, aku juga merasa. Semoga di tempat lain juga seperti yang kita rasakan,” tukas guru Atma.

“Ah, aku sangsi di kota terkutuk ini.”

“Tidak, tidak jangan sebut kota ini terkutuk. Kau yang mengajak aku ke sini. Kau sudah lama tinggal di sini. Aku tak mau mendengar ungkapan keputusasaan dari kamu.”

“Yah, begitulah, terkadang aku lelah saja. Maafkan aku.”

“Kau tentu masih ingat cerita yang disampaikan guru SD kita itu. Tentang dua orang pengendara yang datang ke suatu kota. Ketika mereka sama-sama kembali dan ditanyai tentang pengalaman mereka tinggal. Seorang menjawab bahwa kota itu busuk dan penduduknya jahat. Ia tak kerasan tinggal di situ. Sementara orang kedua, ia menjawab bahwa kota itu menyenangkan, penduduknya ramah kepadanya. Dan ternyata kemudian diketahui bahwa yang membuat mereka tidak kerasan tinggal adalah diri mereka sendiri. Yang jahat tidak kerasan tinggal. Yang baik kerasan tinggal. Hati itu cermin pemiliknya sendiri-sendiri.”

“Ya, aku masih ingat. Karena guru itu pula aku dan kamu sepakat sesudah dewasa ingin mengabdi sebagai guru.”

“Ya, kau berhasil membangun sekolah di sini, bahkan tanpa bantuan pemerintah. Kau hebat.”

“Kau mau membantuku. Melepas kariermu sebagai pelukis potret. Itu membuatku bahagia dan berusaha untuk tetap tinggal di sini.”

Keduanya tertawa. Meminum kopi dan memakan ubi rebus dengan nikmat.

“Bau ampo ini pertanda kita tetap tinggal dan mengabdi di sini.”

*****

Esoknya, hujan berhenti. Tapi siangnya ketika sekolah usai dan guru Atma mau pulang, hujan kembali turun. Di sekolah murid-murid sudah sepi. Tinggal beberapa guru. Tapi mereka ternyata memakai mantel. Hanya pak guru Atma yang tidak memakai. Bahkan si kepala sekolah itu juga tidak membawa payung.

“Kau tidak bawa payung?”

“Aku ingin berhujan-hujan. Aku ingin mencium bau ampo. Kau cium bau itu di halaman, kan?”

“Iya, aku juga menciumnya,” jawabnya sambil menutup payungnya. Keduanya berjalan turun di halaman, membiarkan seluruh baju mereka basah oleh hujan dan bahkan buku-buku tas mereka.

“Ada sunahnya untuk berhujan-hujan.”

“Iya, sudah lama kita tak melakukannya. Sunah yang enak untuk berhujan-hujan begini.”

Mereka tertawa gembira.

“Mau mampir di tempatku lagi?” tanya guru Atma.

“Ah, gantian saja. Sekarang di tempatku. Istriku tadi membuatkan sop manten untuk mengenang tiga tahun pernikahan kami. Kau kuundang ke tempatku.”

“Dengan pakaian basah begini?”

“Tidak apa. Nanti kau bisa pakai kaus dan sarungku.”

Mereka tertawa berjalan keluar dari halaman. Anehnya, begitu keluar, bau dari halaman, bau ampo itu makin lama makin tipis. Bahkan, hujan menjadi berbau amis dan jika jatuh di lidah air itu terasa anyir. Ini menakutkan keduanya. Mereka jadi bergidik ngeri.

“Tidak semua tempat seperti yang kita duga ternyata. Jalanan tidak bersahabat.”

“Bahkan taman bermain ini juga berbau sama. Menakutkan. Entah kerusakan apa yang terjadi di sini.”

“Tanda-tanda akhir zaman telah tiba. Semua didahului dengan keadaan begini. Ayo kita bergegas!”

Jalanan, taman bermain, pasar, dan rumah- rumah sedikit sekali yang berbau ampo gurih. Rata-rata berbau anyir dan amis. Keduanya bahkan berlari dari hujan yang seakan mengejar mereka. Berharap segera sampai di rumah kepala sekolah.

“Rumahmu terasa jauh sekali. Napasku kembang kempis. Sial napas rokok.”

“Lima belokan lagi. Kita harus tetap berlari.”

Keduanya berlari. Mereka kini bertudung buku dan tas dari hujan. Tak peduli dilihati oleh orang-orang yang menepi di pinggir jalan, perempuan pramuniaga di toko-toko, dilihati anak-anak yang bermain di beranda rumah mereka, dilihati pemulung yang menepi di pojok halte.

Namun, orang-orang itu sudah mafhum dengan dua guru aneh itu. Konon keduanya seniman nyentrik. Sudah tua masih saja balapan lari saat hujan begini, seperti anak kecil saja! pikir mereka.

Dan diujung jalan itu, terdapat sebuah rumah. Seorang perempuan menunggu di beranda masih dengan celemek di perutnya yang menutupi kehamilannya. Sebulan lagi ia melahirkan. Bayi itu konon adalah bayi pertama yang lahir setelah 10 tahun tidak ada kelahiran bayi di kota ini.

Penulis bergiat di Pakagula Sastra, novel terbarunya Lost in Lawu (2016).


Bagikan Spirit Sastra, Share Yaaah...^_^


Isikan Email untuk Update Sastra Terbaru: