Rumah Kontrakan | Cerpen Yus R Ismail

Rabu

Rumah Kontrakan | Cerpen Yus R Ismail




Seharian berkeliling mencari rumah kontrakan, tidak juga menemukan. Maksudnya, menemukan yang pas dengan hati. Ya harganya, ya rumahnya. Ada rumah yang leluasa, besar, nyaman untuk keluarga anak tiga dan usah kecil-kecilan membuat kerajinan tangan, harganya tidak terjangkau. Ada yang harganya cocok, rumahnya kecil dan sumurnya berair kekuningan. Akhirnya mengeluh lagi. Tentu saja karena sudah seminggu saya mencari rumah kontrakan.

Motor yang belum lunas cicilannya ini lalu berbelok ke sebuah mushala. Mushala kecil di pinggir sawah. Di halamannya yang lumayan luas pohon mangga dan rambutan seperti payung. Bebungaan membuat nyaman napas dan penglihatan. Bunga bakung putih berbaris seperti garis batas.

Di belakang mushala, dipisahkan kolam kecil dan dua petakan sawah besar, ada sebuah rumah. Mungkin rumah yang punya mushala ini. Mungkin hanya rumah peristirahatan, semacam villa yang didatangi pemiliknya sekitar sebulan atau dua bulan sekali. Karena setiap mampir ke mushala ini, ikut mendirikan shalat, saya belum pernah melihat penghuni rumah itu.

Setiap selesai berwudhu di belakang mushala saya selalu memandang rumah itu.

Rumah siapa dan bagaimana di dalamnya? Pertanyaan itu selalu muncul di dalam hati.

Karena rumah itu hanya terlihat atapnya. Pohon baluntas yang menjadi pagar hidup tingginya menyamai orang dewasa. Pepohonan besar mengelilingi rumah itu. Rambutan, mangga, sawo, nangka, sirsak, sepertinya asal menanam saja.

Di dalam mushala hanya ada seorang kakek sedang berzikir. Saya lalu mendirikan shalat sendiri. Selesai shalat, berdoa yang pendek saja. Lalu merebahkan badan, meluruskan punggung. Terkejut juga waktu membuka mata, si kakek sudah berada di hadapan, mengajak bersalaman.

“Sepertinya sudah lama Bapak tidak ke sini,” katanya.

Saya bangun dan tersenyum. “Iya, sudah lama saya tidak bekerja lagi, tidak berkeliling. Sekarang belajar usaha kecil-kecilan di rumah. Kok, Kakek tahu?” kata saya. Ya, hampir 20 tahun, sejak sebelum menikah, saya selalu mampir ke mushala ini. Saat menjadi sales kopi, mie instan, bumbu-bumbu dapur, selalu istirahat di mushala ini. Selesai shalat bisa terus merebahkan tubuh, santai, sambil menghitung hasil jualan.

“Kakek kan yang menjaga mushala ini dan rumah di belakang itu,” katanya. Seterusnya berbincang ke sana ke mari seperti dengan kenalan lama. Katanya, persawahan yang luas itu, rumah dan mushala ini, pemiliknya sama. Tapi si Kakek tidak terlalu jelas menerangkan siapa dan tinggalnya di mana pemilik persawahan ini, kapan biasanya datang beristirahat di rumah itu, atau yang lainnya. Saya sendiri, begitu saja menceritakan susahnya mencari rumah kontrakan. Padahal, rumah kontrakan yang sekarang ditinggali seminggu lagi harus dikosongkan.

“Kalau butuh buat tinggal, lihat-lihat saja rumah yang di belakang itu. Sudah berkali-kali pemiliknya berpesan, tinggali rumah itu biar tidak dingin dan cepat rusak,” kata si Kakek.

Tentu saya sangat tertarik. Tapi begitu masuk ke halaman rumah itu, apalagi ke dalam rumah, napas saya terasa berat. Rumah semegah itu bukan buat saya. Pepohonan di halaman yang dari jauh seperti asal tanam itu, ternyata rapi dan indah. Pasti ditata oleh ahli taman yang sudah berpengalaman. Di dalam rumah, penempatan kursi, lemari hias, hiasan dinding, berpadu dengan warna cat yang serasi. Dapur, ruang keluarga, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, terasa nyaman.

Hati saya tersenyum. Si Kakek mungkin tidak tahu, kemampuan saya bukan mengontrak rumah seperti ini. Tapi, yang keluar dari mulut saya adalah pertanyaan, “Maunya berapa dikontrak per tahun, Kek?”

“Kalau mau ditinggali, silakan saja, tidak mesti itung-itungan. Begitu kata pemilik rumah ini.” Si Kakek memandang saya, tapi seperti yang tidak melihat keterkejutan di wajah saya. “Ini kuncinya. Silakan saja, kapan pun mau mulai pindahnya. Maaf tidak bisa membantu karena Kakek harus pergi.”

***

Aneh. Ajaib. Hidup barangkali memang aneh. Beberapa saat saya tidak bisa bicara. Si Kakek yang berpamitan mengajak bersalaman, hanya saya tanggapi dengan mengangguk. Mulut seperti di lem. Ah, barangkali sejak dulu pun hidup ini aneh. Tidak saat ini saja. Tidak hanya masalah rumah kontrakan saja.

Saya pulang tergesa. Hari itu juga saya ajak istri dan anak-anak melihat-lihat rumah.

Ternyata istri dan anak-anak saya tidak mau pulang lagi. Si bungsu yang baru berusia dua tahun berlari ke sana ke mari sambil tertawa, mengejar kakaknya yang melihat-lihat ruangan sambil tidak berhenti mulutnya mengatakan kekaguman. Besoknya, saya sendiri yang pergi, mengangkut barang-barang.

Tentu saja sangat leluasa dan nyaman tinggal di rumah baru. Usaha terasa lebih tenang. Gudang yang luas saya bersihkan dan menjadi bengkel kerajinan. Hidup terasa bergerak menjadi lebih baik. Pemasaran kerajinan mulai dari pasar kaget hari Minggu, grosir besar, jejaring sosial internet, dan toko swalayan, semuanya terpenuhi. Pegawai yang membantu produksi terus bertambah, dari seorang menjadi tiga orang, lima orang, 10 orang, sampai hampir seratus orang.

Setelah itu uang seperti air selokan yang terus mengalir. Saat memandang para pegawai pulang kerja, saya sering tersenyum sendiri. Aneh. Ajaib juga usaha ini. Bertahun-tahun, sampai punya anak tiga, anak terbesar berusia 11 tahun, saya merintis usaha ini. Hanya bisa menitipkan perut ala kadarnya. Dapat untung besar mengerjakan proyek instansi kabupaten, tapi kemudian dibalas dengan rugi besar karena tertipu. Rejeki barangkali tidak boleh sembarangan mendapatkannya.

Baru sekarang ini saya mampu membeli mobil angkutan usaha dan mobil pribadi keluarga masing-masing. Tidak satu mobil, ya dipakai berlibur, main, ya dipakai belanja, mengantarkan barang. Setiap anak-anak libur sekolah, bisa pergi ke mana saja. Usaha sudah ada pegawai yang mengurusnya. Saya hanya menerima laporannya setiap bulan, dan tentu keuntungannya. Tabungan saya ada di beberapa rekening, juga mas dan tanah.

***

Pernah juga sebenarnya terpikir untuk pindah rumah. Bagaimanapun, meski gratis, rumah ini bukan milik sendiri. Tapi, mencari ke manapun saya tidak menemukan tanah atau rumah yang senyaman rumah ini. Terpikir juga untuk menanyakan harga rumah ini beserta mushala dan persawahannya. Terutama saat usaha saya mulai menanjak, setahun dua tahun sejak saya mendiaminya. Tapi, pemilik rumah tidak pernah datang. Juga si Kakek yang katanya mengurus rumah dan mushala di depan itu.

Selanjutnya terasa berat untuk memiliki rumah sendiri. Karena pemilik rumah tidak pernah muncul, saya memberanikan diri untuk memperbaiki taman di halaman depan, membuat kolam di belakang rumah. Sayang, mata air dari bawah pohon duku selama ini hanya mengalir ke sawah. Di tengah kolam dibuat bangunan untuk beristirahat atau makan-makan. Kenalan, partner bisnis, teman anak-anak, banyak yang datang untuk bercengkerama. Mereka sangat menyukai rumah ini.

“Di sini pemandangannya indah banget, susah diceritakan, jadinya malas untuk pulang,” kata mereka.

Saya, juga istri, dan anak-anak, hanya tersenyum menanggapi komentar seperti itu. Karena, setiap kenalan berkunjung ke rumah ini, makan-makan sambil bergurau di bangunan di tengah kolam, pulangnya selalu bilang seperti itu. Tentu saja orang bisa berkomentar begitu. Karena, saya sendiri tidak bosan tinggal di rumah ini.

***

Saking betahnya waktu tidak terasa terus bergulir. Hari berganti, bulan berganti, kalender pun turun dari dinding. Anak-anak sudah besar. SD, SMP, SMU, kuliah, dihabiskan di rumah ini. Teman-temannya terus bertambah, berdatangan dan menyukai menghabiskan waktu di sekitar rumah.

Waktu anak pertama dilamar orang, tidak terpikir mencari gedung untuk resepsi pernikahan. Anaknya sendiri ingin berpesta di rumah. Nyatanya rumah memang lebih meriah dan nyaman dibanding di gedung. Tetamu mengagumi kemeriahan pesta dan menyenangi berlama-lama di sekitar rumah. Malah ada yang datang kembali dua hari setelah pesta pernikahan itu.

“Rumah yang sangat nyaman, Pak,” katanya santai. “Kalau diizinkan saya ingin memotret sekeliling, saya juga ingin membangun rumah dengan penataan seperti ini.”

***

Tentu saja saya bangga. Karenanya saya sangat tersentak, ada sesuatu yang mengganjal di hati, sesuatu yang tidak enak; saat berjalan-jalan ke pertokoan ada yang mencegat saya.

“Bapak ini yang tinggal di rumah belakang mushala itu, ya?” tanyanya.

“Iya, betul.”

“Bagaimana kabarnya yang punya rumah?”

Deg! Ada yang menabrak hati saya. Sangat tidak enak. Apalagi kemudian, entah bagaimana awalnya, orang yang mengaku kenal dengan yang punya rumah berdatangan di mana-mana. Waktu saya mengantar cucu membeli mainan, menemui partner bisnis, menengok sahabat yang sakit, berjalan-jalan ke perkebunan teh; selalu ada yang mencegat saya, mengaku kenal dengan yang punya rumah dan menanyakan kabarnya.

Sejak itu pikiran saya terganggu. Saya sering melamun. Sering tiba-tiba merasa sedih, entah sedih oleh apa. Malah kadang saya menangis. Apalagi suatu sore ada yang mengetuk pintu rumah. Tamu itu mengaku pemilik rumah. Tidak banyak bicara, apalagi meminta ini atau itu, tamu itu hanya bicara: “Ya, terima kasih kalau merasa kerasan, apalagi betah tinggal di sini." Setelah itu dia pamitan.

Saya semakin merasa sedih, sakit hati, tapi entah oleh apa. Waktu saya mengeluh kepada istri, dia menggenggam tangan saya.

“Bagaimanapun, rumah ini bukan milik kita. Kita hanya mengontraknya,” kata saya.

“Ya, suatu waktu kita harus pindah ke rumah sendiri. Rumah sendiri yang tidak bisa dibeli oleh uang, tidak bisa dibangun oleh kekayaan sebanyak apa pun. Dan, mungkin rumahnya tidak senyaman ini.”

Di dalam hati, saya menangis. (*)

Pemilik nama asli Yosep Rustandi ini menulis cerpen, puisi dan novel yang dimuat di berbagai media lokal dan nasional.


NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner