Jelaga di Langit Jingga | Cerpen Ecep Yuli Sukmara - Contoh Karya Sastra | Kumpulan Karya Sastra Pilihan

Jelaga di Langit Jingga | Cerpen Ecep Yuli Sukmara

Judul : Jelaga di Langit Jingga | Cerpen Ecep Yuli Sukmara
Rating : 100% based on 9759 ratings. 9676 user reviews.
Dihimpun Oleh Jasmin Olivia





TERIK mentari menyengat seakan membakar ubun-ubun, kupepetkan motorku di kelokan trotoar dibawah naungan pohon ketapang. Langit seperti kehilangan birunya, sementara burung-burung bangau sawah menelusuri rerimbunan.

*****

DERU motor menghalus tersalip hiruk-pikuk raungan kendaraan di jalanan. Kudinginkan gerah tubuhku untuk sesaat. Tiba-tiba selularku menggelepar dibalik jaketku. Seseorang mengirim pesan singkat. Tak ada catatan nama yang tertulis, hanya deraian angka.

“Mas, cepatlah pulang! Ada berita duka.”

Terkesiap seketika, segera jemariku memijit bel panggilan untuk menelefon balik. Tak ada jawaban, hanya kegaduhan siar-siur menelisik gendang telinga. Lamat-lamat geremang panjatan berbaur isak tangis memisteri diseberang sana. Matahari tetap tak bergeming membakar hari, acapkali kukipasi wajahku dengan syal ku. Ada apa gerangan, hingga angankan secepatnya berkelebat melampaui kepulanganku, menyusul pesan singkat mengejutkan dibalik nomor tak kukenali.

Sepasang anak muda memekik tertahan manakala kelebat motorku nyaris menyerempet punggungnya. Sumpah serapah pun sayup kudengar, masa bodoh. Setengah jam setelah itu, motorku telah menyelinap di antara kerumunan orang-orang di depan gang. Aku tak hendak membuka helmku, ketika orang-orang dan para tetanggaku menghambur mepet atas kedatanganku.

“Mas, tahu dari siapa?” Tanya istriku termangu-mangu. Kulempar jeketku keatas meja beranda serta helm kubuka.

“Mamah barusan dari sana, terlalu banyak para pelayat.” Keluhnya. Mendahului bibirku.

“Dari seseorang, Mah.” Kubalikan tubuhku, mengayun langkah secepat degup jantungku.

“Eh, Si Endu kemana?” Langkahku terhenti, teringat anak lelaki kecilku tak terlihat menyongsong kebiasaannya ketika aku kembali dari bepergian.

“Lagi main layangan bersama teman-temannya.” Sahutnya sembari berlalu ke belakang.

Mentari menyisakan separo bulatannya dibalik punggung bebukitan, cahayanya meredup santun. Aku bersimpuh seiring gema halus kalam-kalam ilahi dari mereka yang berkerumun menjelmakan warna kerinduan dilengkapi isak tangis pilu sanak saudara. Seakan tak percaya, seolah berita dari antah berantah manakala kudapati tubuh sahabatku terbujur kaku. Dua hari yang lalu, istrinya menelpon memohon mengantarnya ke rumah sakit terkait komplikasi penyakitnya yang acapkali kambuh.

“Mengapa akhir-akhir ini, angan dan perasaanku selalu saja tersaput gelinjang takut. Padahal kondisi kesehatanku telah dinyatakan fit dan segala penyakitku sirna. Itu kata beberapa dokter, Sdulur.” Begitu dia berkeluh-kesah suatu malam, ketika aku menemaninya.

“Sebenarnya, apa yang menjadi beban pikiranmu saat ini?” Tanyaku pelan. Sahabatku, Ramadan hanya menekuk wajahnya.

“Seandainya aku pergi memenuhi panggilan Ilahi, aku khawatir, Sdulur. Kepada siapa dia harus mengadu karena kau tahu, aku tiada berkemampuan memberikan keturunan padanya meski usia pernikahan hampir dua dasawarsa.” Hingga disini kata-katanya terhenti karena menyempatkan udara malam singgah dikerongkongannya yang dirasakannya kerontang, disandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal dengan sedikit erangan mendesis dari bibirnya. Sementara mulutku hanya diam.

“Sudahlah, Mas! Dari hari ke hari kau pusatkan arah pikiranmu hanya kepada cemas dan cemas. Berdoalah sebagaimana tiada henti aku berdoa demi kesembuhanmu, dan juga demi keinginan kita dianugerahi momongan. Lagian, bukankah ada Retno, anak asuh kita. Bahkan beberapa bulan ke depan kita akan menikahkannya yang tentunya akan menghadiahi kita dengan seorang cucu.” Sangat pelan berkata Suprihatin.

“Semangat sembuhlah, Mas. Pekan depan, insyaallah kita juga akan melaksanakan umrah.” imbuhnya lagi.

Sunyi malam, geremang suaranya masih tercema sempurna. Kuanggukan kepala bukan karena sebuah persetujuan, bukan pula karena isyarat kemengertian. Kuselami arti sebuah kekhawatiran lewat raut wajahnya. Tentu aku pun akan bersedu-sedan andai situasi kelabu hatinya berpindah ke pundakku. Hampir sepuluh tahun bersama-sama mengarungi dunia pendidikan di sebuah pondok majelis ilmu. Aku, dia dan juga Suprihatin yang kini menjadi istrinya, kemudian berpencar, aku berkelana dari pondok satu ke pondok lainnya sedang Ramadan bernasib mujur ditarik mengajar di sebuah lembaga pendidikan.

“Sudahlah jangan terlalu berkutat dengan kecemasan, Sdulur.” Bergelinding datar ucapanku meredakan suasana. Memperkuat pernyataan Suprihatin.

“Yah, itu pasti. Insyaallah doakan saja. Dua rencana besar itulah yang aku jadikan penawar kekhawatiranku.”

*****

“Bapak-bapak juga sdulur-sdulur sekalian, atas restu seluruh keluarga almarhum. Jenazah almarhum akan dimandikan sore ini juga.” Kiyai Bagusdin, selaku orang yang dituakan tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Belum sepenginangan, tubuh kurus kecil kuning langsat telah terbujur diatas keranda pemandian. Tak sanggup mataku berlama- lama menatap teduh wajahnya. Anganku kembali menjelajahi rentang silam. Dalam sebuah pertemuan setelah bertahun-tahun disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Aku berdua Ramadan menyempatkan sowan kepada beberapa kyai untuk kemudian meneruskan berkholwat dibeberapa petilasan keramat.

Insyaallah, kalian berdua akan menemukan jodoh secara bersamaan, bahkan diberbagai situasi kalian akan melakoninya secara bersamaan.” Demikian tutur mereka tatkala menyambut kami dengan senyum lebar serta bejubel petuah hidup. Dari sini, Ramadan dipertemukan dengan keluarga Suprihatin.

“Tau akan menjadi pendamping hidupku, kenapa tidak dari dulu semenjak masih sepondok.” Ramadan berkelakar, kala itu. Yang hanya dijawab senyum ranau sang istri.

Ila hadharati Cak Ramadan bin Simbah Suhando, alfatihah!” Kembali Kiyai Bagusdin berteriak, mengomandoi geremang ayat pembuka. Cukup menghentakanku, tanah pijakan serasa bergetar, angin dingin berseliweran menebar wangi air mawar dari keranda pemandian. Tak sempat aku mendekat tapi kurasakan kehadirannya begitu dekat merapat. Tak jua tertahankan, sudut mataku sembab melelehkan air kedukaan, tak kusangka secepat ini engkau berpulang, Bukankah kedigdayaan du’a mampu merubah guratan qodo-Nya dan sahabatku ini tentunya sangat mafhum akan permohonan panjang umur. Tak salahkah Sang Izroil memenuhi tugasnya? Segudang pertanyaan serta teriakan protes berkecamuk dalam dada. Seakan hendak menggerus begitu saja kepengetahuanku akan theology dan suratan takdir yang telah tertanam dalam jiwa yang terpupuk di pondok sekian lamanya.

“Bukankah kita tengah berada pada poros usia, Sdulur! Sesungguhnya kedatangan sang penjemput tidaklah secara tiba-tiba, dari awal telah diutusnya berbagai pertanda. Dan aku tengah menghadapi sekaligus menikmati pertanda itu dimana sang penjemput mempersilahkan kita dengan kesahajaannya atau dengan kebengisannya untuk memanjati titian waktu yang serba tak terbataskan. Dari pembaringan ini kupastikan pintu alam hakikat terbuka sudah.”

Meremang bulu kudukku atas nama keterperanjatan, bukankah suara tak asing itu mengalir dari mulut Ramadan. Dari sedepa arah berdiriku, kutatap sayu wajah penuh ketentraman bersimbah air kesucian. Titik-titik butirnya membentuk kilauan mutiara,walau bibirnya tak bergerak.

Syari’at adalah titian pendek yang mengharuskan adanya batasan sedang hakikat tak lain pilar kokoh dikedua sisinya. Hidup adalah titian menuju arah gerbang hakikat. Nah, dari titian itu, manusia mengukir hakikat jati diri. Sepelintasan titian akan mampu membangun mahligai kebahagiaan abadi atau sebaliknya merentas penderitaan tanpa batas. Begitulah hidup, usia dan pengharapan berlomba menuju raib dalam sebuah pencarian. Takdir menorehkan dua sisi nan berbeda laksana kepingan uang logam. Tertulis cita-cita, angan-angan dan berlaksa permohonan namun pada sisi sebelahnya tersurat pula buntalan misteri dimana seluruh mata pena tak dapat menuliskannya secara nyata bahkan seringkali bertolak belakang dengan segala apa yang diharapkan.” Kiyai Bagusdin mengakhiri tutur sapanya begitu menyerap hingga meluluh lantakan naf angkuhku. 

Kupalingkan nanar tatapanku ke langit jingga. Nampak buram untaian cakrawala menjelaga menangkap denyut nadi seakan turut berduka atas segala nada kehilangan raga yang bersahaja. Sebuah maklumat perpisahan sepertinya telah tertorehkan.

“Selamat jalan, Kawan. Semoga Yang Maha Kuasa mempersilahkanmu dalam hamparan keridhaan-Nya..” Getar bibirku getir seiring beku hatiku. Suara angin malam berkelebat, tangis dan sunyi kian menjerat. (*)

Belum ada Komentar untuk "Jelaga di Langit Jingga | Cerpen Ecep Yuli Sukmara"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel