Iklan Atas

Blogger Jateng

Manusia Setengah Duda | Cerpen Rudi Riadi


Kalau ada sayembara penjajahan di atas dunia ini, mungkin istriku juaranya. Dia seperti kompeni. Meregulasi segalanya tentang rumah tangga kami. Padahal aku adalah kepalanya. Tetapi aku justru hanya sebagai rakyat yang dijajahnya. Apalagi setelah aku dirumahkan oleh perusahaan karena pailit. Dia makin menjadi-jadi, menjarah seluruh kehidupanku.

AKU tidak pernah diberi sedikit pun kesempatan untuk menjadi kepala pengelola rumah tangga dengan baik. Sayang sekali, aku sangat cinta pada dia. Sehingga ketidakberdayaan ini tersembunyi di balik itu semua. Padahal aku sudah berusaha untuk tetap menghidupi mereka, istri dan anak-anak. Berusaha untuk memberinya uang yang cukup. Mengantar uang SPP ke sekolah untuk dua anak kami. Membayar token listrik. Sekali-kali membelikan dia martabak Andir atau sate Kaijan sepulang kerja seharian.

Tetap saja. Dia memperolokku dengan sebutan sarjana tak berguna.

“Orang-orang selalu bangga dengan gelar haji di depan namanya. Karena mereka sadar betapa susah payahnya untuk menjadi itu. Dan kamu, bahkan punya gelar sarjana pun tak pernah kau sandang untuk sebuah pekerjaan murahan seperti ini,” demikian dia suatu saat berkata. Membuat hati seperti digilas truk sampah. Sayang sekali, aku sangat mencintainya.

Benar. Setelah di-PHK, aku berjuang untuk menyambung hidup. Dengan pesangon seadanya, setelah sebagian banyak diberikan kepada si penjajah itu, aku membeli sepeda motor dan mengikuti tren teman-teman senasib: menjadi driver ojek online.

Aib rasanya kalau semua keburukan dia harus kuceritakan. Bagaimana dengan sesuka hati dia menyuruhku untuk mencuci pakaian satu ember besar. Pakaian kami. Aku harus menyeduh kopi sendiri. Mengambil makan sendiri. Tanpa pelayan sebab yang seharusnya pelayan adalah penjajah.

Inilah yang membuat istriku seperti jijik melihatku. Aku diusir dari kamar kami. Dan disuruh membersihkan gudang untuk menjadi kamar.

“Kulitmu makin lecek. Kumel!” omelnya. Ya, memang demikian adanya. Seorang driver ojol harus legam. Karena itu adalah atribut yang sebenarnya. Dan istriku tak terima.

Apa pun yang dia katakan aku selalu senyum. Karena hanya itu yang aku bisa. Aku takut untuk marah apalagi menangis karena cercaan istri sendiri. Bila aku pencipta kamus bahasa Indonesia, akan kuhapus cengeng itu. Seperti juga aku yang tidak suka mengenal nama-nama rumah sakit, karena tak mau sakit.

Aku selalu merenung dalam gudang yang sudah disulap ini. Perenungan yang mencapai suatu titik, bahwa aku harus pergi dari sini. Bukan sebagai pengungsi, tapi hanya memberi pelajaran bagi dia. Bahwa dia harus segera memerdekakanku sebagai makhluk lelaki yang lebih berkuasa. Titik keputusan itu tak pernah terlaksana sebelum mencapai puncaknya untuk melakukan itu semua.

Aku semakin dijauhi. Keluarga dengan suami istri yang aneh. Tak pemah bertegur sapa ketika berpapasan. Meski sebenarnya dia masih melakukan beberapa hal seperti memasak, tetapi itu juga untuk kepentingan anak-anak. Aku hanya menumpang. Segalanya serba kaku. Serba canggung. Bila dia ada di dapur aku berusaha untuk berada di ruang tengah. Mungkin dia hanya ingin aku tidak ada di sini. Di rumah tempat membesarkan anak-anak. Dan pada puncaknya aku pun segera mengemas pakaian, tanpa dia ketahui. Pergi dengan segala kepiluan.

Aku menumpang di rumah teman yang ngekos di tempat yang lebih mirip kandang ayam tersusun. Tak apalah, yang penting untuk sementara aku menikmati dulu kehidupan seperti ini. Mungkin sebagai bahan refleksi diri untuk kemudian bisa menjadi bahan memperbaiki kehidupan. Biarlah istriku juga dipaksa untuk berpikir dan mungkin menyesal karena telah tega “mengusirku” secara perlahan. Bagaimana bisa hidup, bila sang penjajah tanpa rakyat yang mau bekerja keras.

Kehidupan harus terus berjalan. Nasib adalah bayangan. Terkadang di depan, terkadang di belakang. Ataupun di samping kiri-kanan. Dia mengikutiku sepanjang waktu. Sepanjang perjalanan yang melelahkan ini.

Aku tetap pada pekerjaanku sebagai driver ojol. Menggantungkan rezeki pada kuota. Menge-bid orderan tanpa tahu siapa dan bagaimana bentuknya. Ngorder di malam hari adalah pekerjaan yang menghibur hati. Menanti para karyawan mal, para pemandu lagu, atau pemijat pulang. Mereka adalah para pekerja malam yang tangguh. Dan mereka adalah para customer yang sering aku order. Seperti penumpang yang satu ini. Seorang karyawan di panti pijat plus-plus di tengah kota.

Penumpang yang cukup cantik. Hitam manis. Dan dia di belakangku dengan santai. Mungkin sedang memegang smartphone. Yang jelas dia tampak tenang menempel di punggungku. Parfumnya wangi. Menyelinap diam-diam ke lubang hidungku. Mencari tahu tentang merek dan jenisnya. Aku sering menemukan wangi ini, pada istriku.

“Kerja selarut ini, Neng?” tanyaku. Pertanyaan yang sebenarnya sudah biasa kutanyakan sebagai pembuka obrolan.

“Iya, Pak,” jawabnya singkat, “bisa lebih larut lagi. Bisa sampai subuh malah mah.”

“Banyak langganannya ya, Neng?”

“Alhamdulillah, Pak. Rezeki jangan ditolak.”

“Betul, Neng.”

“Bapak juga selarut ini?”

“Iya, Neng. Bisa sampai subuh juga malah mah.”

Dia tertawa kecil.

“Siapa ya peduli dengan nasib kita ya, Neng, kalau bukan kita sendiri.”

“Betul, Pak. Makanya saya mah tidak pernah peduli dengan omongan orang-orang. Mereka gak ngasih makan juga sama saya.”

“Memangnya suka ada yang nyinyir?”

“Bukan ada lagi, Pak. Banyak. Tetangga, teman-teman sekolah dulu, saudara. Tapi saya cuek aja. Ngapain juga dipikirin. Saya gak minta duit ke mereka.”

Aku jadi teringat istriku. Untuk sebuah prinsip wanita ini memang benar. Tapi aku makin cinta pada istriku. Dia bahkan datang seperti bayangan, dan bayangan adalah nasib. Dia datang bersama nasibku. Mengiringi ke mana aku pergi. Aku tak pernah bertanya pada wanita yang menempel di belakangku ini, apakah dia selalu berdoa sebelum dan sesudah bekerja

Di Jalan Bahagia, dia memintaku berhenti. Aku agak terkejut karena tidak sesuai aplikasi.

“Di sini aja, Pak.”

“Ini kan Jalan Bahagia Neng, bukan Jalan Sederhana?” tanyaku.

“Bahagia itu kan sederhana, Pak,” sahutnya sambil tertawa kecil. “Mau ke kosan temanku dulu. Udah janjian.”

Oh…” Aku yakin dia adalah penyuka film serial SpongeBob.

Hanya tiga hari. Ya, hanya tiga hari aku terlunta tanpa keluarga. Menjadi duda insidental. Aku harus segera menemui istriku. Untuk meminta maaf atas segala penderitaannya selama ini.

Aku pulang. Dia sedang mengolah adonan gorengan. Tampak menikmatinya. Ketika aku datang dia tak merespon sedikit pun. Biarkan saja, aku bahkan bangga padanya. Kuselipkan pada hati saja rasa bangga ini. Kubiarkan dia mengerjakan apa yang dia nikmati. Hari yang panjang.

Sampai akhirnya dia berkata di kamar tidur di malam hari, seusai tangisku berhenti.

“Sekali-kali jadilah lelaki yang cengeng. Agar aku bisa tahu betapa hebatnya suamiku ini.” Katanya sambil tersenyum.

Aku baru menyadari bahwa istriku juga penyuka serial kartun SpongeBob. (*)

Posting Komentar untuk "Manusia Setengah Duda | Cerpen Rudi Riadi"