Kue Gandus Nenek | Cerpen Guntur Alam - Contoh Karya Sastra | Kumpulan Karya Sastra Pilihan

Kue Gandus Nenek | Cerpen Guntur Alam

Judul : Kue Gandus Nenek | Cerpen Guntur Alam
Rating : 100% based on 9759 ratings. 9676 user reviews.
Dihimpun Oleh Jasmin Olivia





Nenekku cerewet—aku bingung membedakan antara cerewet dan pemarah. Itulah hal yang pertama kali muncul di benakku, jika ingatan tentang nenek muncul. Aku tahu nenekku berbeda daripada neneknenek teman sebayaku dulu. Jika nenek mereka kerap memberi uang jajan, nenekku justru kerap memberiku banyak pekerjaan. Aku tak tahu, apa aku membenci nenek atau justru menyukainya.

Kau mungkin bertanya, “Kenapa kau tidak membantahnya? Bukankah anak-anak kerap membantah dan nakal?”

Aku pernah melakukannya. Aku pernah membantah nenekku. Namun aku menyesal telah melakukan itu. Bukan. Bukan karena aku takut menjadi cucu durhaka dan kelak akan disiksa saat mati seperti dalam komik Siksa Neraka yang kupinjam dari kawan sekelasku, tapi karena aku tidak ingin melukai ibuku.

Ya, nenekku pemarah dan juga jahat. Saat aku menjadi pembangkang, nenek dengan liciknya melakukan serangan pada ibuku. Nenek melakukan taktik keji dalam peperangan yang dia lancarkan padaku. Aku tahu, nenekku memang begitu. Setiap aku, kakakku atau ayahku bersilang pendapat dengannya atau tak menuruti kehendaknya, dia pasti menyerang ibu. Dan kami semua tak akan berkutik dibuatnya.

Kata nenekku, ibuku perempuan paling lambat di muka bumi ini. Pernah sekali nenekku bilang, jika ibu adalah jelmaan keong sawah. Dia tidak cekatan. Lembek. Gampang menangis dan tak pernah becus dalam hal apa pun, kecuali memasak. Bila nenek sudah mengoceh panjang tentangnya, ibu tak pernah membantah sepatah kata pun. Ibu hanya diam dan terus bekerja seperti biasa, bila nenek sudah meninggalkannya, ibu baru akan duduk dan menangis tanpa suara. Aku kesal, tapi aku tak berdaya. Ibu tak pernah mengizinkan kami membantah nenek. Jadi, bagaimana aku tak mengatakan jika nenekku sangat licik dan jahat?

*****

NENEK hanya memuji ibu dalam hal masakan. Kami semua mengakui itu. Ibuku sangat pandai memasak. Semua masakannya terasa enak. Entah itu gulai atau kue. Seumur hidup nenekku, dia hanya sekali memuji ibu di depan orang lain dan itu pun aku tak sengaja mendengarnya.

“Kalau kue gandus cuma begini. Jauh lebih enak buatan menantuku. Tak jadi belilah aku.”

Aku yang waktu itu baru pulang sekolah dapat melihat dengan jelas, wajah bibi penjual kue keliling merah padam. Dia terlihat dongkol.

“Tapi nenek kan sudah nyicip. Masak nggak jadi beli,” ujarnya dengan keringat yang berpeluh di pelipisnya.

“Lah, kan cuma nyicip sedikit.”

Karena tak tega dengan bibi penjual makanan itu, aku segera masuk ke rumah. Meletakkan tas di kursi dan segera mencari ibu. Kutemukan ibu tengah bergelut dengan menu makan siang di dapur. Dia terlihat kusam dan buruk rupa. Secepat yang aku bisa, kuceritakan tragedi di teras depan. Ibu tak berkata sepatah kata pun, dia hanya meluncur ke arah kulkas, merogoh saku penutup kulkas dan tergesa menuju teras. Aku mengekor. Bibi penjual kue itu tengah bersungut-sungut sambil menaikkan nampah berisi kue ke atas kepalanya.

“Sebentar,” panggil ibu. “Saya mau beli.” Bibi itu tersenyum dan nenek mendengus.

Seharusnya nenek berterima kasih pada ibu. Dia telah menyelamatkan nenek dari rasa malu dengan membeli beberapa kue yang sebenarnya tidak ingin ibu beli dan makan. Namun ternyata, nenek tidak begitu. Dia terus saja mengoceh sepanjang siang sampai makan malam, tentang ibuku yang betapa bodohnya bisa ditipu oleh penjual kue keliling.

“Kau bayangkan saja, Sam. Istrimu ini bisa ditipu oleh penjual kue keliling. Hanya seorang penjual kue keliling. Aih, tak bisa kubayangkan bila dia dilepas ke kota besar. Pasti dia akan habis dimakan orang-orang berhati culas.”

Aku hanya melongo mendengar ucapan nenek itu. Siapa yang culas sebenarnya? Namun aku memilih diam. Sebab aku tak ingin melukai ibu. Bila aku membantah nenek, maka nenek dengan tanpa belas kasih akan menyerang ibu. Lalu ibu akan menangis. Dan aku benci melihat ibu menangis.

*****

BUKAN aku ingin memuji ibuku, tapi menurutku ibu adalah menantu yang paling berbakti. Walau nenek tak sekali pun menunjukkan cinta kasih padanya, ibu tetap saja menghormati dan melayaninya sebaik mungkin. Aku tak sekadar memuji ibuku, tapi memang begitu. Bahkan ibuku hapal seluruh makanan kesukaan nenek, termasuk kue ulang tahunnya yang tak lazim. Kue gandus.

Ya, nenek memang suka sekali makan kue gandus. Apalagi buatan ibu. Sebenarnya kue ini bukanlah kue yang lazim kau temukan di hari ulang tahun seseorang, tapi kue ini lazimnya dibuat dan dihidangkan pada hari hajatan kematian.

Aku pernah bertanya pada ibu, “Kenapa nenek suka sekali kue gandus? Terutama saat ulang tahunnya.”

“Aku tak tahu. Coba kau tanya ayahmu.”

Namun ibu tahu, aku tidak akan pernah berani bertanya tentang nenek pada ayah. Hubungan ayah dan nenek bisa dibilang tidak terlalu bagus. Walau mereka adalah ibu dan anak kandung. Sekarang aku baru paham, bagaimana ibu bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan nenek, bila antara nenek dan ayah sebagai anak kandungnya saja, tak bisa mewujudkan itu.

Rahasia dibalik kesukaan nenek pada kue gandus di hari ulang tahunnya justru kudapatkan dari bibiku. Dia adik ayah. Dan hanya mereka berdua anak nenek.

“Kau tahu,” ucap bibi saat dia pertama kali hendak menceritakan rahasia itu. “Kue gandus biasanya kita makan saat di hajatan orang meninggal.”

Aku mengangguk. Itulah yang tidak lazim. Dan aku terus dihantui pertanyaan; kenapa? Apa yang membuat nenek selalu ingin makan kue gandus di hari ulang tahunnya? Bukankah hari ulang tahun harinya bersenang-senang dan riang gembira, tapi nenek justru makan makanan hari kesedihan di hari itu. Terdengar membingungkan, bukan?

“Karena nenek merayakan kematian seseorang,” suara bibi terdengar begitu dingin, aku bahkan meremang saat mendengar ucapan itu. “Kematian seseorang yang membuatnya bahagia.”

“Kenapa bisa?” aku tak habis pikir, adakah kematian seseorang justru membuat orang lain bahagia? Bukankah itu terdengar seperti psikopat?

Bibi hanya mengulas senyum, tipis. “Nenek merayakan kematian kakek.”

Aku tercekat. Menelan ludah. Dan bibi tak ingin menceritakan apa-apa lagi padaku. Dia memilih bungkam dan terus menghindar bila aku mengejar lebih jauh cerita tentang itu. Bibiku sudah menjahit mulutnya dan membuang gunting jauh ke dasar Sungai Lematang. Tak ada yang bisa mengambil gunting itu dan memotong benang yang menyatukan bibirnya. Tak akan ada lagi cerita dari mulut bibiku tentang nenek dan kue ulang tahunnya yang tak lazim. Aku tahu, itu artinya aku tak akan bisa memaksa bibi untuk menuntaskan ceritanya padaku.

*****

SEJAK cerita bibi yang tak tuntas itu, aku lebih memperhatikan nenek. Bukan dalam artian aku lebih dekat dan lebih baik padanya. Tidak. Tak ada perubahan antara hubungan kami. Aku hanya diam-diam mencatat semua gerak-gerik nenek. Barulah aku menyadari sesuatu, nenek tidak pernah sekali pun berziarah ke kubur kakek, walau pun seluruh keluarga pergi ke sana jelang hari raya. Nenek lebih memilih berkurung di kamarnya.

Aku juga mulai menyadari, jika nenek sangat menghindari foto kakek yang berwarna hitam putih dan berukuran 10 R di ruang tamu rumah kami. Bila tengah ada di ruang tamu, nenek gegas sekali beranjak ke dapur. Dia lebih senang menonton tivi di sana, sembari mengocehi ibu dan sesekali membantu pekerjaan ibu.

Gerak-gerik nenek yang tak wajar ini, terus menimbulkan tanya dan misteri di benakku. Aku ingin tahu, tapi menemukan jalan buntu. Tak ada yang bisa kutanyai. Tidak ayah, kakakku dan ibu. Mereka seakan-akan tidak tahu tentang keganjilan yang nenek tunjukkan.

Namun waktu yang gegas dan beban di pundak yang semakin besar, pada akhirnya menenggelamkan keingintahuan kanak-kanakku itu. Perlahan-lahan aku disibukkan dengan urusan belajar dan tujuan hidup. Aku melupakan nenek dengan misteri tentang kakek, kue gandus, dan perayaan ulang tahunnya yang tak lazim itu. Terlebih seluruh isi rumah seolah tak menganggap kebiasaan nenek sesuatu yang ganjil. Hanya aku seorang. Dan aku belajar untuk menerimanya.

*****

“KAU seharusnya langsung mengajukan cuti, saat ibu menelponmu,” ucap ibu yang menyambut kepulanganku. “Nenek terus menerus menanyakanmu.”

“Tak bisalah, Bu. Aku bisa pulang kalau bosku sudah menyetujui cutiku,” sanggahku. Ibu terlihat sibuk di dapur, seperti biasa.

“Apa yang ibu masak?”

“Nenekmu kepengin makan kue gandus,” jawabnya. “Pergilah ke rumah sakit. Tak ada yang menjaga nenek.”

Aku ingin membantah, tapi ibu memandangku dengan tatapan andalannya. Tatapan yang tak ingin dibantah. Aku meninggalkan ibu yang tengah mencampur tepung beras dengan santan kelapa. Di atas meja, aku sudah melihat bawang goreng dan potongan daun seledri. Aromanya membuatku melayang pada ingatan, betapa nenek jahat pada ibu, tapi ibu terus menerus berbakti padanya.

*****

HANYA ada aku dan nenek, tak ada siapa-siapa di sini. Wajahnya terlihat kuyu. Slang infus terpasang di kulit tangannya yang keriput. Matanya yang tua tapi tetap awas, tersenyum melihatku muncul di ambang pintu kamar. Dia menggapai udara, aku berjalan pelan, duduk di sampingnya.

Lama nenek menatapku, lalu perlahan tangannya yang keriput membelai rambutku. Entah, apa yang terjadi, aku melihat mata nenek basah, lalu dia terisakisak. Aku diam. Aku hendak bertanya, tapi lidahku kesat. Tak sepotong kata pun meluncur dari mulutku.

“Kau mirip sekali dengan kakekmu. Itulah yang membuatku benci padamu,” nenek berkata terbata-bata. “Dia lelaki yang keras kepala, pemarah dan ringan tangan. Sementara aku. Perempuan penakut, tak becus dan selalu salah. Jadi, aku tak salah kan jika menganggap kematian kakekmu sebagai pintu gerbang kebebasanku, yang patut dirayakan?”

Aku menelan ludah, semakin tak bisa berkata-kata. Petang itu, aku mendengar sebuah cerita rahasia. Cerita yang langsung diutarakan pelakonnya. Dadaku sesak. Kebas. Antara marah atau tersentuh. Aku tak bisa membedakannya lagi.

“Aku tak pernah membenci ibumu. Aku hanya ingin dia tidak menjadi lembek dan penakut sepertiku. Makanya aku terus menerus memarahinya. Aku ingin dia kuat. Ayahmu tidak mirip dengan kakekmu. Aku bersyukur itu. Semoga kau tak membenciku. Aku sangat menyukai ibumu. Dia menantu yang baik.”

Dan aku tak tahu bila ternyata ibu tengah menangis di ambang pintu. Hanya saja, aku mencium bau bawang goreng dan seledri dari kue gandus yang hangat dan basah. (*)

Belum ada Komentar untuk "Kue Gandus Nenek | Cerpen Guntur Alam"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel