Punggung | Cerpen Zahra Nurul Liza - Contoh Karya Sastra | Kumpulan Karya Sastra Pilihan

Punggung | Cerpen Zahra Nurul Liza

Judul : Punggung | Cerpen Zahra Nurul Liza
Rating : 100% based on 9759 ratings. 9676 user reviews.
Dihimpun Oleh Jasmin Olivia





ORANG-ORANG yang menggunakan baju berlapis-lapis itu berlalu-lalang di jalan membawa timba berukuran sedang. Ukuran sebatas sanggup diangkut tangan. Timba-timba itu semula kosong, kemudian akan diisi air dari sumur tua peninggalan ulama ternama yang berbibir sempit dan dalamnya tak sanggup ditangkap mata. Air sumur itu dipercaya mempunyai kekuatan magis yang mampu menyembuhkan segala penyakit bagi yang berpenyakit, dan mampu menangkal segala kemungkinan terburuk bagi yang masih sehat-sehat saja. Karena alasan itulah, orang-orang datang entah dari mana saja.

Para pengunjung santun dan beretika. Meskipun semua menginginkan air sumur ajaib itu segera memenuhi timba, tapi nyatanya tidak ada yang berebut. Mereka sudah terbiasa berbaris panjang demi mendapatkan air itu secara bersahaja. Tidak ada caci maki, tidak ada dialog-dialog yang mengarah pada pertanda ketidaksabaran. Mereka cenderung hanya diam saja. berbicara seadanya, itu pun jika dirasa perlu. Selebihnya hanya berdiri tegak menunggu giliran. Sesekali bagi kaum perempuan yang tidak sanggup menahan panasnya matahari, menutup bagian wajah dan kepala dengan kain panjang yang membalut tubuh mereka. Sudah dikatakan bukan? Mereka mengenakan baju lebih dari selapis. Apabila berlapis-lapis masih dirasa tidak cukup, maka mereka akan menambahkan kain selendang panjang hingga mampu menutupi kepala hingga bawah pinggang. Kain panjang ini paling sering digunakan oleh para perempuan. Sedikit berbeda dengan kaum laki-laki yang lebih mempercayai jubah panjang tebal untuk menutup seluruh tubuh mereka dari kepala hingga kaki. Seakan-akan sedikit saja kulit yang tampak itu sudah menjadi hal yang teramat memalukan.

Air-air masih terus dituangkan ke timba sampai penuh bahkan kadang meluap. Tidak ada yang protes atau khawatir akan kehabisan air apalagi orang-orang yang menunggu pada urutan paling belakang. Mereka tetap tenang. Seakan-akan sudah tahu bahwa air di sumur itu tiada mengenal kata habis. Ini sunyi. Betul-betul sunyi. Di hari yang semakin panas, angin hanya datang sesekali. Orang-orang itu masih saja dengan santun dan sabarnya menunggu giliran untuk seember air yang dianggap mujarab dan penangkal terhadap hal jahat. Antrian tidak pernah putus, satu orang pulang, tiga orang kunjung datang. Tetap mereka tanpa kata apapun sampai kemudian jubah salah seorang laki-laki, entah bagaimana ceritanya, jatuh merolot hingga sebatas punggung. Dia mengerang kesakitan. Luka di punggungnya jelas tampak. Borok berwarna merah kecoklatan itu seperti menguap dibakar sinar matahari. Orang-orang lantas saja menutup hidung dan mulut. Para perempuan banyak yang muntah meski sudah coba menahan sebisanya.

Laki-laki itu pulang. Tidak berlari tidak juga pelan. Langkahnya hanya dipecepat sebisa mungkin. Di sepanjang jalan, jubahnya kembali coba dia naikkan, tapi terjatuh lagi sampai batas yang sama. Akhirnya apalagi yang terjadi kalau bukan orang-orang yang berlalu-lalang di jalan menatapnya dengan berbagai jenis tatapan. Ada muntah seketika, ada yang mencoba menjauh. Tidak sedikit yang mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah padahal jelas-jelas mereka jarang berbicara. Namun, seketika saja, ketika orang-orang itu melihat luka di tubuh lelaki yang terus mempercepat langkahnya tanpa peduli pada apa pun, mereka tidak bisa menahan mulut untuk bersuara. Mereka tidak bisa menjaga lagi kata-kata agar bersemayam di dalam jiwa. Akhirnya orang-orang itu hilang kesabarannya, hilang kewibawaannya.

Sepanjang jalan di mana laki-laki berpunggung luka itu lewat, orang-orang dengan pakaian berlapis-lapis itu sontak jadi banyak bicara bahkan sampai memaki. Tapi laki-laki itu masih seperti semula, mencoba menaikkan kembali jubahnya, berjalan dengan cepat tanpa pernah mencoba untuk berlari. Sampai kemudian ada seorang wanita dengan kain selendang yang cukup panjang menutup mulut setelah sebelumnya berteriak dan memekikkan kalimat, “Ulat berjatuhan dari punggungnya!”

Suara-suara semakin ramai. Orang-orang dengan kecepatan kilat mengambil kain yang kadang entah dari mana untuk menambah jumlah lapisan kain pada tubuhnya. Kini tubuh-tubuh mereka mirip tumpukan kain yang berjalan. Seluruh tubuh mereka tutupi dengan berhelai-helai kain. Hanya dua bagian yang diperlihatkan yaitu mata dan mulut mereka. Jika dulunya mereka hanya cenderung memperlihatkan mata saja untuk mengawasi jalan, kini sejak lelaki berpunggung terluka itu lewat, mereka mulai memperlihatkan mulut lebar itu. Dulu mulut itu sering diam sehingga terlihat berwibawa dan sabar dalam segala hal, kini diam adalah hal yang langka.

Telah lebih dari seminggu kejadian laki-laki berpunggung luka itu berlalu. Tapi, orang-orang di kampung ini tetap memakai kain dengan jumlah yang semakin menebal dalam keadaan mulut yang nyaris tidak pernah diam. Mereka masih saja membicarakan laki-laki yang berpunggung luka itu dengan penuh rasa jijik. Bahkan garis lurus saat antrian mengambil air di sumur ulama itu kini sudah bengkok. Beberapa mulai membentuk lingkaran-lingkaran kecil demi kenyamanan dan kekompakan saat bercerita. Di antara mereka ada yang membawa timba lebih dari satu dengan tujuan untuk berjaga-jaga. Sama tujuannya dengan menambah jumlah kain yang mereka pakai agar tidak ikut tertular penyakit laki-laki berpunggung luka itu. Beberapa orang yang sudah merasa lelah menunggu giliran pada bagian belakang, mengeraskan suaranya sebagai tanda untuk setiap orang agar gerakannya dipercepat. Bahkan ada diantara mereka yang memaki bila dianggap orang-orang di barisan depan masih sangat lambat.

*****

Orang-orang duduk bertumpuk-tumpuk di sudut-sudut desa. Mereka seakan sudah punya lapak sendiri untuk berbicara dengan sesama. Masih dengan kain yang berlapis-lapis di badan, mulut dan matanya terbuka sempurna. Mereka masih saja membicarakan lelaki yang berpunggung luka itu. Beberapa di antara mereka mencoba mencari tahu keberadaan lelaki tersebut. Sebab, sejak kejadian sebulan lalu itu, lelaki berpunggung terluka tidak pernah muncul lagi. Hal inilah yang membuat semua warga bertanya-tanya. Ditambah lagi dari mana asal luka itu. Kenapa bisa ada luka seperti itu. Apa itu kutukan? Sebab bagaimana ceritanya luka bisa sampai bernanah, merah, hingga membusuk kecoklatan dan berulat begitu?

Orang-orang masih terus membicarakannya. Meskipun peristiwa itu telah berlalu lama. Orang-orang masih terus saja membicarakannya diawali dengan rasa jijik, tapi lama-lama jadi asyik. Orang-orang terus membicarakannya yang semula rasanya ingin jauh-jauh, tapi kemudian ingin dekat sebab penasaran. Orang-orang terus membicarakannya dari semula mulut mereka yang diam tapi kini bahkan tidak sempat diam.

Di tengah-tengah pembicaraan yang begitu hangat. Pembicaraan yang sudah mampu mengubah tradisi. Pembicaraan yang sudah mampu mengubah pola pikir itu, tiba-tiba muncul angin yang begitu kencang dari langit. Angin itu seperti gasing yang punca talinya tidak terlihat. Anehnya, angin itu tidak menghancurkan apa-apa. Rumah-rumah warga masih berdiri kokoh. Pohon-pohon masih tegak tanpa ada satu daun pun yang jatuh. Angin itu hanya menghempaskan kain-kain berlapis dari tubuh setiap orang. Hingga akhirnya tidak ada kain yang tersisa di tubuh mereka. Mereka saling heran dan saling tatap. Belum lagi sempat untuk berpikir bahwa mereka harus segera menutup tubuh mereka terutama beberapa bagian penting, mereka sudah muntah duluan. Luka yang tidak pernah dibayangkan sudah lebih dulu menutup seluruh tubuh mereka tanpa jeda. (*)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel