Pencarian Bakat | Cerpen Dadang Ari Murtono

Pencarian Bakat | Cerpen Dadang Ari Murtono

Judul : Pencarian Bakat | Cerpen Dadang Ari Murtono
Rating : 100% based on 9759 ratings. 9676 user reviews.
Dihimpun dan Diedit Oleh Jasmin Olivia






Tiga orang, satu perempuan dan tiga laki-laki, duduk di balik meja panjang menghadap mikropon berbatang kecil berwarna hitam. Melalui mikropon itulah mereka menyalurkan segala komentar pedas terhadap siapa saja di panggung seberang meja panjang.

Seorang perempuan dengan rok setinggi paha berwarna merah dan kemeja flanel ketat yang didominasi warna hijau lengkap dengan riasan yang mencolok mata mereka sebut jelmaan kakatua. Perempuan itu, yang pasti belum berusia lebih dari dua puluh dua tahun, menutup muka dengan kedua belah telapak tangan. Kedua bahunya berguncang-guncang. Lalu, setelah berhasil menenangkan diri, sedikit menenangkan diri, perempuan itu berkata, “Tapi bukankah kalian seharusnya menilai suaraku?”

Si perempuan di balik meja berkata: Suaramu seperti lengkingan monyet yang sedang kawin.

Lelaki berjas hitam di balik meja berkata: Suaramu seperti seruling. Namun seruling yang habis terlindas truk kontainer.

Lelaki berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu berkata: Lolongan kucing yang tengah beranak jauh lebih baik ketimbang suaramu.

Perempuan di atas panggung tak kuasa menahan air mata. Air mata yang beberapa saat sebelumnya ia redakan. Ia berusaha tegar berdiri. Namun kakinya gemetar. Beberapa detik kemudian, dua lelaki berbadan tegap masuk ke panggung, lalu memapah perempuan yang pingsan itu dan membawa keluar.

Setelah perempuan itu, sebelas lelaki memasuki panggung. Mereka mengenakan seragam hitam. Seragam ketat terusan dari ujung kaki hingga leher. Tampang mereka menunjukkan ketegangan. Mereka membungkuk ke ketiga makhluk mengerikan di balik meja panjang. Makhluk-makhluk yang telah malih rupa jadi malaikat pengadil. Perempuan di balik meja langsung nyerocos: Bagaimana kalian memakai pakaian itu? Apakah penjahit menjahitnya langsung di tubuh kalian seperti itu? Lalu bagaimana kalian nanti melepasnya? Dengan mengguntingnya?

Dua lelaki yang mengapit perempuan itu tersenyum masam. Si laki-laki berjas hitam bertanya: Apa yang akan kalian lakukan?

“Akrobat,” salah seorang di antara mereka, sepertinya yang ditunjuk kawan-kawannya sebagai juru bicara, menjawab. Suaranya gemetar. Enam lelaki lain menyeka kening.

“Kalian akan gagal,” kata lelaki berkemeja putih berdasi kupu-kupu. “Aku tahu bahkan sebelum kalian memulai. Kenapa kalian tidak pulang saja?” tambahnya.

“Kau jahat sekali,” perempuan di balik meja menyahut. Namun wajahnya menunjukkan ekspresi menahan geli. Dan selarik senyum menghias bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. “Mereka harus melakukannya dulu kan? Itu peraturannya.”

“Terserah merekalah. Aku hanya ingin mengatakan usaha mereka akan sia-sia belaka. Hayo…, segeralah mulai.” Lelaki berkemeja putih berdasi kupu-kupu menyandarkan punggung ke sandaran kursi setelah membanting beberapa lembar kertas ke atas meja.

Sebelas lelaki itu kembali membungkukkan badan bersama-sama. Mereka kemudian memencar dan keluar dari panggung. Lima detik kemudian, empat di antara mereka masuk dari sisi kiri panggung kembali seraya menggotong trampolin besar. Empat yang lain menggotong trampolin sama besar dari sisi kanan panggung. Lantas, tiga sisanya berlari, dua dari sisi kiri dan satu dari sisi kanan, dan langsung meloncat ke atas trampolin. Tubuh mereka melenting tinggi. Mereka berjempalitan, berputar-putar, dan kembali jatuh dengan kaki terlebih dulu di trampolin lantas melenting kembali. Delapan laki-laki lain segera pula turut dalam permainan.

Dua trampolin itu, meskipun berukuran besar, nyatalah berkesan terlalu sempit untuk sebelas orang yang melenting-lenting di atasnya, berjempalitan, berputar-putar, untuk kemudian jatuh ke atas trampolin dan kembali melenting-lenting. Mereka melompat dan mendarat di trampolin lain, bertukar posisi. Kadang-kadang mereka tampak seperti akan bertabrakan sewaktu melenting di udara dan menyeberang ke trampolin lain.

Penonton yang memadati kursi di belakang tiga orang yang duduk di belakang meja panjang tak mampu menahan teriakan. Para penonton itu kaget. Mereka takut sebelas orang itu bertumbuk dan mendapat celaka. Namun sebelas orang itu menunjukkan keterampilan memukau. Mereka lincah. Lentingan mereka kian tinggi, makin tinggi, hingga di satu titik, lentingan mereka nyaris menyentuh langit-langit panggung. Beberapa penonton kembali berteriak tertahan. Dan begitu sebelas orang itu mengakhiri pertunjukan, penonton bertepuk tangan. Panjang. Dan menggema.

Sebelas orang itu berdiri terengah-engah. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat pakaian yang sudah begitu ketat, tampak lebih ketat lagi.

Perempuan di balik meja berkata: Kalian seharusnya menyadari penampilan kalian hanya menghasilkan banyak keringat. Karena itu, kalian seharusnya memakai deodoran lebih banyak lagi.

Perempuan itu mengibas-ngibaskan tangan kiri di depan hidung, sedangkan tangan kanan sibuk menulis entah apa di kertas yang berserakan di depannya.

Lelaki berjas hitam di balik meja berkata: Anak-anakku empat. Yang terbesar berusia dua belas tahun dan yang paling kecil empat tahun. Mereka bisa melompat lebih indah daripada kalian, bahkan tanpa bantuan trampolin.

Lelaki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu di balik meja berkata: Lumba-lumba juga bisa melompat seperti itu. Yang kami mau sesuatu yang luar biasa. Bukan sesuatu yang biasa-biasa saja seperti itu. Kalian tahu, jika kalian melompat, bukan lompatan yang asal tinggi yang kami mau. Kami mau lompatan yang bisa membuat pelompat meninggalkan kenyataan.

Sebelas lelaki di atas panggung menundukkan muka. Penonton bersorak huuu… panjang dan bergema. Sebelas lelaki di panggung tak tahu kepada siapa sorakan huuu itu tertuju; pada mereka atau komentar tiga makhluk yang seolah-olah terlahir tanpa hati nurani itu.

Mereka beringsut. Hendak keluar dari panggung. Perempuan di balik meja berkata: Kalian memang tidak layak. Kalian bahkan tak tahu sopan santun. Begitukah cara orang tua kalian mengajari kalian?

Sebelas laki-laki di atas panggung berhenti. Si juru bicara tampak hendak menyampaikan sesuatu. Namun suaranya tenggelam ke dalam kerongkongan dan hanya meninggalkan desisan panjang di ujung lidah.

Perempuan di balik meja meneruskan: Kalian seharusnya mengucapkan terima kasih terlebih dahulu sebelum pergi.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupukupu menambahkan: Lihatlah. Seperti kubilang, mereka benar-benar memuakkan. Mereka bahkan tak menghargaimu yang membela mereka tadi.

Laki-laki berjas hitam mengibaskan tangan. Dan sebelas laki-laki keluar dari panggung. Lunglai.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupukupu berkata: Apa-apaan ini? Kenapa kita berada di sini dan disuguhi tumpukan sampah seperti ini? Benar-benar menyebalkan.

Laki-laki berjas hitam mengafirmasi: Aku setuju. Aku hampir-hampir tak sanggup menahan muntah. Untung aku ingat tadi aku menghabiskan tiga ekor lobster asam manis. Dan itu tidak murah.

Setengah menit kemudian, di atas panggung, berdiri seorang perempuan. Rambutnya yang hitam tergerai, menjuntai hingga betis. Ia mengenakan celana kain hitam. Kemeja hitam. Sepatu hitam. Celak mata hitam. Gelang dan kalung hitam.

Perempuan di balik meja berkata: Untuk seorang perempuan, selera fashion-mu benarbenar payah.

Perempuan di balik meja berdiri. Memamerkan diri sendiri.

Laki-laki berjas hitam berkata: Benar-benar tak ada harapan.

Laki-laki berkemeja putih dan berdasi kupukupu berkata: Sampah lain lagi.

Laki-laki berjas hitam berkata: Apa yang akan kaulakukan? Cepatlah, kami tidak punya waktu seharian menunggumu melakukan hal bodoh. Mari kita akhiri dengan cepat.

Perempuan di atas panggung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menyapu tiga pengadil tak bercela di balik meja, menyapu para penonton. Cahaya lampu panggung yang mengguyur tubuhnya membuat semua orang di sana tahu: matanya berkaca-kaca.

“Aku hanya meminta kalian semua mendengarkan bunyi tepukan tanganku,” kata perempuan itu. Lantang. Suaranya bergema.

Terdengar suara tawa menyambut ucapannya. Suara tawa dari perempuan di balik meja. Suara tawa dari lelaki berjas hitam. Suara tawa dari lelaki berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu. Suara tawa dari beberapa penonton.

Sebelum suara tawa berakhir, perempuan di atas panggung telah bertepuk tangan. Satu kali saja. “Dan kalian akan tertidur,” katanya dengan kelantangan tak berubah.

Ruangan itu hening. Semua, kecuali perempuan di atas panggung, telah jatuh dalam tidur yang dalam. “Kalian akan bermimpi menjadi sebatang pohon. Kalian akan terbangun setelah aku pergi dari sini,” tambahnya.

Lantas ia pergi. Suara langkah kakinya memecah keheningan. Tepat ketika ia keluar dari panggung, seisi ruangan terbangun dari tidur.

Dan mereka, penonton dan tiga orang di balik meja, terkejut mendapati betapa rambut mereka telah berubah menjadi dedaunan. Dedaunan lebat berwarna hijau.

Dari sela-sela kerimbunan daun itu muncul kepala seekor ular yang mendesis-desis dan menjulurkan lidah yang bercabang.

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.



Baca juga KARYA SASTRA lainnya
Daftar Isi
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner