5 Contoh Puisi Pahlawan Pilihan


Contoh Puisi tentang Kepahlawanan - Sobat semua pasti sudah mengetahui makna yang terkandung dalam kata pahlawan. Untuk lebih mengingat kembali, mari kita simak kembali pengertian dari pahlawan.

Pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau bisa dikatakan pahlawan itu adalah pejuang yang gagah berani. Seorang pahlawan tidaklah membutuhkan bayaran, penghargaan, ataupun sanjungan dari khalayak. Seorang pahlawan hanya bercita-cita akan tegaknya kebenaran dan keadilan. Pahlawan akan merasa risih jika sebuah kebenaran mulai terusik dan mulai dirusak. Pahlawan tidak akan membiarkan kejahatan, kedengkian, kekejaman, dan ketidakadilan bercokol di dunia ini. Mereka akan sekuat tenaga tanpa kenal takut berjuang agar kebenaran tetap tegak berdiri walaupun harus berkorban harta bahkan nyawa.

Lantas, siapa sih pahlawan itu?

Siapapun yang memiliki ciri dan sifat diatas, pantas disebut sebagai pahlawan. Tak peduli itu tukang becak, tukang sapu jalanan, relawan pengatur lalu lintas, guru, bahkan orang tua kita sendiri. Pahlawan bukanlah melulu seperti yang media banyak gambarkan seperti Spiderman, Superman atau tokoh superhero lainnya. Nyatanya banyak pahlawan disekitar kita yang ikhlas berjuang menegakkan kebenaran.

Lalu, bisakah kita menjadi sosok pahlawan?

Sangat bisa. Kita adalah pemuda bangsa yang punya banyak sekali potensi. Kita juga pemuda yang peduli dengan kebenaran. Jika kita lantang dalam menyuarakan kebenaran-kebenaran yang tertindas maka kita bisa menjadi seorang PAHLAWAN.

So, marilah kita pupuk keberanian kita, keikhlasan kita, untuk berjuang membela kebenaran.


Berikut 5 contoh puisi tentang kepahlawanan yang bisa Sobat simak.


Sebuah Jaket Berlumur Darah
Taufik Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.


Raden Ajeng Kartini
Davit Marcela Ananda
Siapakah ia pahlawan wanita?
Yang selalu dikenang tanggal 21 April
Raden Ajeng Kartini
Mengapa engkau tidak dikenang setiap hari

Engkau rela bekorban
Demi para wanita Indonesia
Mendidik para wanita
Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan

Raden Ajeng Kartini
Mungkin ibuku seperti ini karena jasamu
Engkau jadi teladan para wanita Indonesia
Terima kasih Pahlawanku

Habis gelap terbitlah terang
Habis sedih menjadi senang
Habis susah menjadi mudah
Habis membela menjadi gugur

Terimalah terima kasihku
Lewat bait bait puisiku


Pahlawan Pendidikan
Mutmainnah
Kau mengabdi pada negeri
Mendidik anak negeri
Untuk menjadi orang yang berbakti
Mengajar penerus bangsa Indonesia.

Kau Guruku
Yang setia mengajarku
Aku yang buta akan ilmu
Aku yang tak tahu apa arti dunia
Tetapi kehadiranmu
Membuatku tahu apa itu dunia?

Kau guruku
Orang tua ke duaku
Mengajarku tentang hal baru
Yang belum pernah ku tahu
Jika orang bertanya siapa yang membuatku
Mengetahui banyak hal?
Gurulah yang ku sebut

Dalam do'aku pada tuhan
Aku selalu menyebut jasamu
Yang tak terhingga
Dalam pintaku pada tuhan
Aku selalu meminta agar kau
Senantiasa di jaga dalam dekapannya

Kau Guruku
Pahlawan pendidikanku
Pahlawan pengetahuanku
Pahlawan penerang hidupku
Apa yang harus ku balas
Atas jasamu?
Hanya tuhan yang bisa membalas jasamu
Dan surgalah tempat yang pantas untukmu


Pahlawan Tanpa Pamrih
Safriella Madania
Guru ...
Pahlawan tanpa pamrih
Mengajari kita
Membimbing kita
Dalam kesederhanaannya
Kau pelita dalam kegelapan

Mendorongku
Menjadi pandai
Memberiku ilmu
Ilmu yang bermanfaat
Berharap ...
Ku jadi anak sukses

Apa yang dapat ku lakukan?
Dengan semua jasa dan kasih sayangnya
Hanya dapat berterima kasih dari bibir ini
Hanya dapat mengharap,
Tuhan memberinya kebahagiaan

Terima Kasih, Guru
Kini ku sukses
Tapi, tak dapat kubalas semua jasamu
Yang besar
Yang tak terkira
Kau selalu jadi pahlawan
Bagi generasi masa depan


Lagu Dari Pada Pasukan Terakhir
Asrul Sani
Pada tapal terakhir sampai ke Jogja
bimbang telah datang pada nyala
langit telah tergantung suram
kata-kata berantukan pada arti sendiri.

Bimbang telah datang pada nyala
dan cinta tanah air akan berupa
peluru dalam darah
serta nilai yang bertebaran sepanjang masa
bertanya akan kesudahan ujian
mati atau tiada mati-matinya

O Jendral, bapa, bapa,
tiadakan engkau hendak berkata untuk kesekian kali
ataukah suatu kehilangan keyakinan
hanya kanan tetap tinggal pada tidak-sempurna
dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara
akan hilang ditup angin, karena
ia berdiam di pasir kering

O Jenderal, kami yang kini akan mati
tiada lagi dapat melihat kelabu
laut renangan Indonesia.

O Jendral, kami yang kini akan jadi
tanah, pasir, batu dan air
kami cinta kepada bumi ini

Ah mengapa pada hari-hari sekarang, matahari
sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya
yang akan dikirim ke bumi.

Jendral, mari Jendral
mari jalan di muka
mari kita hilangkan sengketa ucapan
dan dendam kehendak pada cacat-keyakinan,
engkau bersama kami, engkau bersama kami,

Mari kita tinggalkan ibu kita
mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa
mari jendral mari
sekali ini derajat orang pencari dalam bahaya,
mari jendral mari jendral mari, mari.......